Keluarga Zhang

Rico Sumitomo
Chapter #20

Lembar Kedua Puluh

19 Agustus 2005

Deru motor gede melaju di tengah hamparan sungai Xiuguluan dan pegunungan yang asri. Bob melaju meliuk-liuk dari tugu garis balik utara menuju ke pedalaman. Sesekali ia merapat ke pinggiran hilir sungai dan menikmati angin sepoi-sepoi yang tertiup di kala malam. Pandangannya mengarah pada tebing yang curam. Sesaat, ia bisa melihat bangkai mayat tergeletak di sana, lalu di saat yang sama bayangan itu hilang dari dalam benaknya. Ia menatapi rembulan yang menggantung di langit kosong. Bentuknya mengingatkan Bob dengan lagu lama.

Bulan bak lemon… menggantung kekuningan di langit kosong.

Air matanya perlahan mengalir bersama dengan asap rokok yang terembus dari napasnya. Apa ini yang namanya karma? Di saat ia masih hidup, ia harus menyaksikan pernikahannya retak, masa depan anaknya rusak karena masalah otak dan dirinya dihantui oleh hantu dari perbuatannya di sungai tak beriak ini.

Aku sudah tua… sudah bukan waktunya menyesali kesalahan di masa muda.

Bob mengendarai motor gedenya menjauh dari hilir sungai Xiuguluan. Ia meninggalkan bayangan hantu Sa'ih di sungai itu dan berharap arwahnya tenang bersama dengan arwah leluhur di puaknya. Ia kembali menjajaki memori seusai Nyonya Zhang beranjak dari rumahnya di tahun 80-an. Ia merasa semua kemalangan terjadi berturut-turut dalam keluarga itu saat sosok yang sudah ia anggap ibu pergi meninggalkannya. Ia yakin ayahnya juga merasa bersalah telah membiarkan Nyonya Zhang kembali ke keluarga Hilbram. Karena sejak saat itu, sosok Nyonya Zhang yang ia kenal sejak kecil tidak pernah kembali.

"Halo?" Bob mengangkat ponselnya. "Indra, ada apa?"

"Aku baru menjenguk Robert beberapa hari yang lalu, Paman. Kabarnya sudah lebih baik daripada beberapa minggu yang lalu."

"Oh, baguslah. Terima kasih sudah mau mengunjungi Robert, Nak."

"Sama-sama Paman," ucap suara di seberang mantap. "Omong-omong, apa Paman tahu soal tentara langit dan rubah putih?"

Lihat selengkapnya