Keluarga Zhang

Rico Sumitomo
Chapter #23

Lembar Kedua Puluh Tiga

Robert menatap hamparan lampu neon berkelap-kelip lewat jendela di lantai tiga belas. Di sana, ia melihat kerumunan orang dan mobil bergerak layaknya semut dalam sebuah koloni. Sementara itu, di kejauhan ia disuguhkan pemandangan bangunan tertinggi di dunia. Sudah hampir dua bulan ia mendekam di dalam bangsal. Seharusnya ia bisa pulang lebih cepat, namun kabar kematian ayahnya membuat kondisi mentalnya kembali drop. Ia bahkan tidak bisa mengetahui apakah suara di kepalanya kali ini suara hatinya atau suara dari masa depan.

Sudah Rob, tidur dulu sana. Kamu lagi nyari apa sih?

"Aku lagi nyari bintang fajar. Siapa tahu Kristus datang lagi untuk yang kedua kali."

Sudahlah Rob, apa gunanya juga kamu menunggu kedatangan Yesus? Lagian kamu kan Kristennya juga asal-asalan, mana mungkin terangkat?

Robert tidak menggubris perkataan itu. Pikirannya kembali memutar kejadian kemarin. Sewaktu ia duduk di meja panjang dan berbincang dengan Veronica.

"Aku turut berduka cita atas kematian ayahmu, Rob. Semoga kamu bisa tabah ya."

"Terima kasih, Ver," ucap Robert tenang. "Maaf harus merepotkanmu datang kemari jauh-jauh dari Australia."

"Nggak apa-apa," ucap Veronica. "Kebetulan aku juga lagi libur musim panas."

"Kamu masih bertukar surat sama teman penamu?"

"Iya," ucap Veronica. "Dia yang bilang kondisimu di sini jadi semakin parah setelah ayahmu wafat. Aku khawatir, jadinya sekalian menjengukmu sewaktu semesterku selesai."

"Oh," Robert tertegun. "Dia kerja di sini."

"Magang," ucapnya. "Namanya Jessica. Orangnya baik, sayangnya aku belum pernah melihat dia secara langsung."

"Aku rasa kamu lebih baik putus hubungan dengan teman penamu."

"Kenapa?"

"Aku rasa dia berbahaya. Indra juga, ada yang berbahaya di dalam dirinya," Robert bergidik ketakutan. "Mereka berdua berbahaya. Mereka mengincar nyawamu."

"Kamu tahu dari mana mereka berbahaya? Indra kan temanmu juga."

Lihat selengkapnya