Robert terbangun di atas kursi beludru yang tengik. Aroma popcorn yang masam dan ruangan bioskop yang temaram membuatnya tahu kalau ini bukanlah dunia nyata, melainkan proyeksi dari mimpinya lagi. Seluruh bioskop diisi dengan lagu Qiushi Pianpian dari Yinxia yang mengalun rendah ditemani dengan gambar seorang pria yang duduk meratapi seorang wanita yang telah terbujur kaku.
"Yah, pelakornya mati diracun," ucap Roberto sambil mengunyah popcorn yang sudah basi dan menyeruput soda lama di sebelahnya.
"Kasihan sekali Tamara," ucap Roberta sambil meneteskan air mata. "Malang sekali nasibnya."
"Siapa suruh dia masuk ke rumah tangga orang lain?" ujar Roberto ketus. "Betul, Robert?"
Robert menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia selalu merasa kikuk jika harus berhadapan dengan dua persona masa lalu dan masa depannya di dalam mimpi.
"Menurutmu bagaimana Veronica?"
Gadis berjubah putih di sebelahnya menatap dengan pandangan sinis. Ia hanya menjawab, "Itu tergantung dari sudut pandang mana kamu berpikir."
"Ver, aku sudah berusaha untuk mencegahmu… maksudku kau di masa lalu untuk tidak dekat dengan Ouroboros. Tapi dia malah menganggapku gila. Bagaimana ini?"
"Ya, bagaimana nggak gila," ucap Roberto ketus. "Kamu berusaha untuk merusak kanon. Itu sama saja dengan kamu kembali ke masa lalu dan bilang ke orang New York di tahun 90-an kalau gedung kembar mereka akan ditabrak oleh pesawat. Apa kamu pikir akan ada yang percaya?"
"Kalau kita punya kekuatan untuk menghentikan itu, kenapa tidak?" ucap Robert.
"Aku setuju dengan Robert," ucap Roberta. "Kalau aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan mengusahakan agar semua orang tahu kalau bahaya akan datang."
"Kalau begitu, siap-siaplah kalian berdua didiagnosis terkena skizofrenia paranoid," ucap Roberto. "Saranku, urusi saja hidup kita sendiri. Jangan peduli soal Indra, Joan ataupun Veronica di zaman ini, bukankah begitu, Naomi?"
"Ya," ucap wanita yang ada di samping Robeto. "Aku juga sudah memperingati J soal Ouroboros, tapi dia tetap ngotot ingin menjalankan misi dendamnya."
"Halo?" ucap Robert melambai-lambai. "Kamu itu siapa? Pecahan baru dari imajinasiku, kah?"
"Ah, bukan dong," ucap Naomi. "Anggap saja aku ini pemandu."
Bayangan Naomi memudar layaknya kabut asap sebelum Robert bisa bertanya lebih lanjut. Ia melihat ke arah layar yang berkedip-kedip, menatap ratapan pria paruh baya yang menyayat hati.
"Tamara, jangan tinggalkan aku! Aku mohon Tamara! Aku mohon!"
"Sumpah! Ini sebenarnya kita lagi nonton apa sih?"