Keluarga Zhang

Rico Sumitomo
Chapter #25

Lembar Kedua Puluh Lima

Leo menaruh bunga di atas tanah pemakaman yang masih belum kering. Ia tidak pernah mengira Bob akan meninggal lebih dulu daripada dirinya. Ia duduk di dekat gundukan tanah itu dan membuka sekaleng bir, meminumnya dan menuang sebagian cairan birnya ke atas tanah.

"Aku rasa kita tidak pernah bisa keluar dari kutukan ini, bukan? Kau dan anakmu, serta aku dan anakku. Kita semua terperangkap dalam kutukan tak kasat mata ini. Ah, kadang aku berpikir apa aku harus marah pada Ayah waktu ia membawa wanita itu. Kalau saja aku bertahan dan tidak lari, mungkin kau masih ada di sini bersamaku, Kawan."

Leo meminum bir di kalengnya hingga tandas. Di tengah keheningan pemakaman, Leo kembali berbicara pada nisan kawannya.

"Indra minta izin untuk pergi ke Penghu. Aku rasa ia sudah tahu rahasia yang telah kita simpan selama bertahun-tahun ini rupanya. Kadang aku merasa takut ketika melihat anak itu. Aku bisa merasa ada aura yang buruk muncul dari dalam dirinya. Mungkin karena ia tidak pernah punya sosok ibu sejak kecil. Aku merasa berhutang banyak padanya. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya. Meski kau tahu sendiri kalau ia bukanlah anakku, ia lebih dari itu. Ia satu-satunya orang yang mengingatkanku pada adik perempuanku sendiri."

Leo menepuk tanah yang menempel di celananya dan berjalan menuju ke pemakaman lain. Ia menatapi satu per satu makam orang-orang yang bertebaran di tempat ini. Terkadang ada rasa yang aneh melihat keberadaan orang yang dulunya pernah ada di samping kita kini telah menjadi memori yang terkubur di dalam tanah.

Leo melipir ke sebuah makam sederhana di tengah rerumputan. Ia membabat rumput yang ada di sana dengan parang yang ia bawa. Lalu dengan rapi ia menata buah-buahan di depan makam yang bertuliskan Lea Zhang yang meninggal di tahun 1988.

"Ini ada sedikit makanan untukmu, Lea. Aku harap kau bisa terus tenang di alam sana. Anak-anakmu sekarang sudah besar dan punya kehidupannya sendiri. Aku harap kau tidak khawatir lagi dengan mereka. Meskipun salah satu dari anakmu berperilaku berandal, tapi Indra sama sekali tak membencinya. Dia bahkan berencana mengunjunginya nanti di Penghu. Aku harap kamu dan Papa aman di sana."

Leo memantik dupa dan menepuk tangan tiga kali, lalu ia menancapkan dupa itu di altar dewa tanah dan altar milik adiknya lalu kembali berdoa sebelum akhirnya membawa makanan yang telah dipersembahkan untuk dibawa pulang.

* * *

21 Desember 1987

Jantung Lea berdebar hebat. Masa haidnya sudah terlambat lebih dari dua minggu. Bayangannya kembali pada waktu itu, ketika ia berhubungan dengan Anton tanpa menggunakan pengaman karena tidak memiliki uang jajan. Aduh, seharusnya ia menolak tawaran waktu itu. Namun, mengingat waktu itu sedang dalam hari yang aman, ia pun tidak berpikir terlalu banyak. Siapa sangka kini ia harus berhadapan dengan kemungkinan yang terburuk di dalam hidupnya.

"Lea, kenapa kamu lama sekali di toilet? Sudah waktunya makan."

Lihat selengkapnya