Di penghujung tahun 2005, Joan dan gadis itu menunggu kedatangan seseorang di depan dermaga. Di tangan mereka terpapang papan yang menuliskan nama orang yang mereka tunggu. Sesosok pemuda berbadan tegap datang dari atas kapal dan melambaikan tangan pada mereka.
"Aibo! Lama sekali tidak bertemu, siapa gadis di sebelahmu ini?"
"Coba tebak," ucapnya sambil menyibak rambutnya.
"Oh my God! I!" ucap pemuda itu setengah girang. "Kau tidak perlu sampai serepot ini untuk menjemputku. Indra mana?"
"Dia tertidur. Lelap."
"Aku sudah lama tidak menginjakkan kaki di pulau ini," ucapnya sambil menarik napas panjang. "Tak terasa tiga tahun berlalu begitu cepat. Bagaimana kabar Bobby dan Leo?"
"Leo masih seperti biasa, sementara Bob, dia meninggal karena kecelakaan. Atau itu mungkin yang orang tahu."
"Bagus!" ucap pemuda itu dengan nada bengis. "Itu bayaran yang pantas untuk orang yang telah bersekutu dengan iblis."
"Kita mau di sini terus atau jalan ke kafe untuk ngobrol?" tanya Joan. "Udara di sini panas sekali. Aku rindu suasana Taipei yang sejuk di bulan ini."
Mereka bertiga berjalan meninggalkan bandara menuju sebuah kafe di dekat kota Jiayi. I dan pemuda itu memesan jus jeruk sementara Joan memesan kopi americano dengan ekstra espresso shot.
"Jadi, bagaimana kau bisa terdampar di Penghu?"
"Panjang ceritanya, I," ucap pemuda itu. "Bisa jadi satu buku sendiri kalau aku ceritakan. Lagipula tujuan kita berkumpul bukan untuk nostalgia masa lalu, bukan?"
"Ya, bukan memang," ucap Joan. "Kita di sini untuk membuat aliansi. Karena kurasa kita tidak bisa bergerak masing-masing untuk mencapai tujuan kita."