2 Februari 2006
Robert menunggu di depan pintu Dokter Go selama hampir satu jam. Ia memutar lagu lawas mandarin di pemutar mp3-nya dan memandang ke arah sekitar sambil sesekali menatap nomor yang tertera di atas layar.
"Nomor 34 Dipersilakan masuk."
Robert bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam ruang dokter. Di sana Dokter Go duduk dengan masker terpasang di wajahnya.
"Selamat siang Robert, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"
"Baik, Dok."
"Bagaimana dengan gangguan tidurmu? Apa sudah mulai baikan? Apa masih sering terbangun tiap malam untuk menunggu bintang fajar?"
"Tidur saya sudah lebih baik, Dok dan saya sudah tidak menunggu bintang fajar lagi."
"Apa masih ada suara di kepalamu? Suara dari masa depan?"
"Hampir tidak ada, Dok."
"Baik," ucap Dokter Gao sambil mengetik diagnosisnya ke dalam komputer. "Apa masih sering bermimpi berada di dalam bioskop?"
"Kemarin ada, Dok," ucap Robert. "Mimpi menonton kematian seorang remaja, dia sekarat dan badannya menegang hebat dan mulutnya berbusa."
"Oh, spesifik sekali," ucap Dokter Go. "Mirip rabies?"
"Ya, Dok. Mirip rabies."
Dokter Go kembali mengetikkan sesuatu ke dalam komputer. Pandangannya sesekali beralih dari layar komputer kembali ke pasiennya lalu kembali lagi ke layar komputer.
"Akhir-akhir ini kamu lagi sibuk apa, Rob?"
"Aku sedang menyiapkan ujian masuk universitas, Dok. Aku mau ambil farmasi."
"Oh, farmasi. Bagus itu," ucap Dokter Go. "Obatnya seperti biasa ya, Rob. Aripiprazole untuk semalam dua butir, Estazolam dan Trihexyphenidyl untuk siang sebutir. Oke?"
"Baik, Dok."