Umur gue sekarang 34 tahun.
Di umur segini, sebagian orang mungkin sudah punya keluarga yang lengkap. Pulang kerja disambut istri,
anak-anak yang berisik, dan rumah yang terasa seperti tempat paling aman untuk kembali.
Sementara gue?
Gue pulang ke rumah sendiri.
Buka pintu sendiri.
Makan sendiri.
Nyuci baju sendiri.
Beresin rumah sendiri.
Kalau sakit, gue urus sendiri.
Kalau sedang banyak pikiran, gue juga harus menenangkan diri sendiri.
Ironisnya, gue punya rumah. Gue punya pekerjaan. Gue masih bisa membayar sebagian cicilan. Gue bahkan
masih bisa bercanda dan terlihat baik-baik saja ketika bertemu orang.
Tapi ada malam-malam tertentu ketika gue duduk sendirian, menatap layar ponsel, lalu bertanya dalam hati:
"Sebenarnya gue sedang menjalani hidup, atau cuma belum berhenti hidup?"
Gue nggak selalu punya jawaban.
Kadang gue cuma diam.
Kadang gue tidur, tapi cuma 3 atau 4 jam dalam sehari. Setelah itu terbangun dengan kepala yang kembali
penuh. Tentang utang, Tentang keluarga, Tentang kesalahan masa lalu, dan tentang perempuan-perempuan
yang pernah gue cintai. Tentang orang-orang yang dulu gue anggap saudara, tapi ternyata nggak selalu ada
ketika gue sedang jatuh.
Dan tentu saja, tentang diri gue sendiri.
Tentang semua keputusan bodoh yang pernah gue buat.
Tentang uang yang gue berikan kepada orang lain sampai diri gue sendiri kekurangan.
Tentang kepercayaan yang gue berikan kepada orang yang salah.
Tentang rumah, kendaraan, dan barang-barang yang satu per satu pernah gue korbankan karena gue pikir
cinta harus diperjuangkan sampai habis.
Ternyata gue salah.
Bukan karena mencintai seseorang itu salah.
Tapi karena gue terlalu sering memberikan semuanya kepada orang lain sampai lupa bahwa diri gue sendiri
juga perlu diselamatkan.
Gue pernah menikah.
Pernikahan itu cuma bertahan kurang lebih dua bulan.
Setelah itu gue kembali menjadi seseorang yang hidup sendirian, membawa luka yang nggak bisa gue jelaskan
kepada semua orang.
Gue pernah mencintai perempuan yang membuat gue merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia.
Gue juga pernah mencintai perempuan yang membuat gue kehilangan hampir semua yang gue punya.
Dan yang paling menyakitkan, gue pernah menceritakan luka gue kepada seseorang dengan harapan dia