Kemana gue harus pulang?

Catatan Gue
Chapter #2

BAB 1 - Rumah yang Perlahan Kehilangan Penghuninya

Kalau gue harus mulai cerita dari awal, mungkin gue harus mulai dari sebelum gue benar-benar ngerti apa itu

keluarga.

Bokap gue jauh lebih tua dibanding nyokap gue. Bokap lahir sekitar tahun 1932, sementara nyokap lahir

tahun 1958. Kalau dipikir-pikir sekarang, jarak usia mereka memang lumayan jauh.

Gue sendiri nggak pernah benar-benar tahu bagaimana awal mula mereka bertemu. Nyokap nggak pernah

menceritakannya secara detail. Jadi sampai sekarang, bagaimana seorang laki-laki yang lahir tahun 1932 bisa

bertemu dengan perempuan yang lahir tahun 1958, lalu akhirnya menikah dan punya anak-anak, termasuk

gue, masih menjadi bagian dari cerita keluarga yang nggak pernah gue ketahui dengan jelas.

Dan gue juga nggak pernah menanyakannya.

Yang gue tahu, gue lahir sebagai anak paling bontot dari tiga bersaudara.

Kakak pertama gue laki-laki, yang dalam cerita ini gue kasih nama Raka. Kakak kedua gue perempuan, gue

sebut Nadia.

Gue anak bontot.

Dan kalau soal kehidupan, gue bisa bilang, alhamdulillah, waktu kecil gue lahir dari keluarga yang secara

finansial lumayan lebih dari cukup.

Bokap, yang gue sebut Bram dalam cerita ini, waktu itu punya usaha sembako dan material. Kalau nggak

salah ingatan gue, zaman tahun 90-an toko sembako memang masih cukup menjanjikan. Belum seperti

sekarang ketika minimarket ada hampir di mana-mana.

Waktu kecil, kehidupan gue sebenarnya enak.

Rumah keluarga gue lumayan besar. Mobil bukan cuma satu, tapi beberapa. Kebutuhan sehari-hari tercukupi.

Dan karena gue anak paling kecil, gue juga termasuk anak yang paling sering diturutin bokap.

Mungkin karena gue bontot.

Gue bisa dibilang anak bokap banget.

Apa yang gue mau, selama masih bisa diberikan, sering diturutin.

Makanya kalau orang melihat masa kecil gue dari luar, mungkin mereka akan berpikir gue anak yang bahagia.

Dan memang, gue merasa bahagia.

Setidaknya saat itu.

Karena ada sesuatu yang waktu itu belum gue pahami.

Gue sebenarnya kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tua gue. Bukan karena mereka nggak ada

secara fisik, tapi karena jauh di belakang gue sebagai seorang anak kecil, ada masalah besar yang sedang terjadi

di antara mereka.

Masalah yang waktu itu belum mungkin gue mengerti.

Bokap gue ternyata selingkuh.

Dan bukan cuma selingkuh.

Dia menikah lagi dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan nyokap gue.

Gue baru benar-benar memahami semua itu ketika sudah jauh lebih dewasa.

Waktu kecil, yang gue tahu cuma suasana rumah perlahan berubah.

Nyokap lebih sering stres.

Bokap semakin jarang pulang.

Dia lebih sering menginap di rumah perempuan yang kemudian menjadi istri barunya.

Dan nyokap yang harus menghadapi semuanya.

Kadang-kadang, kemarahan dan stres nyokap akhirnya jatuh ke gue.

Gue sering dimarahin.

Waktu itu gue nggak ngerti kenapa.

Yang gue tahu cuma gue ada di rumah dan kadang menjadi tempat pelampiasan ketika keadaan nyokap

sedang nggak baik.

Gue cuma merasa:

Kok rumah yang dulu rasanya nyaman, sekarang jadi berbeda?

Gue juga nggak tahu istilah broken home.

Gue bahkan belum benar-benar paham apa itu perceraian.

Gue cuma tahu bokap dan nyokap gue sedang nggak baik-baik saja.

Tapi di tengah keadaan itu, ada satu cerita tentang gue yang sampai sekarang masih suka bikin gue ketawa

kalau mengingatnya.

Soal kulit gue.

Dari kecil gue memang berbeda sendiri dibanding kakak-kakak gue dan kedua orang tua gue. Kulit gue lebih

gelap.

Menurut cerita nyokap, waktu dia sedang hamil gue, ada seorang tetangga dewasa yang sering meledeknya.

Katanya,

"Anaknya nanti mirip saya loh, Bu. Item gitu."

Nyokap gue selalu menjawab,

"Amit-amit."

Tapi akhirnya gue lahir.

Dan benar-benar item.

Hahahaha.

Gue tahu cerita ini bukan karena gue mengingat kejadian itu. Mana mungkin gue ingat ketika masih ada di

kandungan.

Gue baru diceritain nyokap ketika sudah sekolah dasar dan mulai menyadari sendiri kalau warna kulit gue

memang berbeda dari orang tua dan kakak-kakak gue.

Tapi walaupun berbeda, waktu kecil gue tetap merasa happy.

Gue nggak merasa itu masalah besar.

Setidaknya saat itu.

Masalah keluarga gue semakin terasa ketika gue sudah masuk sekolah dasar.

Sekitar umur sembilan tahun, ketika gue masih SD, keadaan keluarga gue mulai benar-benar berubah.

Nyokap meminta cerai.

Gue pindah rumah.

Gue juga ikut pindah sekolah.

Yang lucu, waktu itu gue belum ngerti kenapa semuanya berubah.

Gue cuma tahu gue pindah rumah.

Gue pindah sekolah.

Bokap nggak lagi tinggal bersama kami.

Lihat selengkapnya