Setelah pindah ke rumah bokap, gue mulai masuk SMP.
Sekolah gue waktu itu sebenarnya dekat banget dari rumah. Jalan kaki juga bisa.
Kalau dipikir sekarang, harusnya masa SMP gue bisa jadi masa yang biasa-biasa saja.
Tapi ternyata nggak.
Gue tinggal di rumah kontrakan kecil bersama bokap, Mira, Tara, dan Nela. Selama bertahun-tahun, gue
bahkan nggak punya kamar sendiri.
Gue tidur di ruang tamu.
Alasnya cuma karpet.
Dan itu berlangsung sampai gue lulus SMP.
Waktu kecil, gue nggak terlalu banyak mempertanyakan keadaan. Gue cuma menjalani.
Kalau malam, ya tidur.
Kalau pagi, ya bangun dan sekolah.
Tapi semakin gue besar, gue mulai melihat kehidupan orang lain.
Di sekitar rumah bokap, gue punya teman-teman baru. Anak-anak komplek yang menurut gue hidupnya
jauh lebih enak.
Orang tua mereka masih lengkap.
Keluarganya kelihatan baik-baik saja.
Kalau mereka mau sesuatu, kadang tinggal minta kepada orang tuanya.
Sementara gue?
Gue sudah nggak hidup di masa ketika bokap masih berjaya.
Usaha sembako dan materialnya sudah bangkrut. Penghasilan bokap sekarang nggak menentu karena dia
menjadi ustadz. Di rumah juga ada Mira dan dua anaknya yang masih kecil.
Kadang gue melihat kehidupan teman-teman gue dan muncul rasa iri.
Bukan iri karena gue membenci mereka.
Gue cuma bertanya dalam hati:
Kenapa hidup gue nggak bisa seperti mereka?
Kenapa keluarga gue harus seperti ini?
Kenapa gue harus pindah dari satu rumah ke rumah lain?
Kenapa gue harus melihat bokap dan nyokap menjalani hidup masing-masing?
Bokap juga masih ngontrak pada saat itu dan harus berpindah-pindah.
Waktu itu gue bahkan belum benar-benar memahami istilah broken home.
Gue cuma tahu gue nggak nyaman.
Gue merasa ada sesuatu yang hilang dari hidup gue.
Dan mungkin karena nggak tahu harus melampiaskannya ke mana, gue mulai mencari pelarian.
Gue mulai nakal.
Salah satunya, gue mulai merokok.
Tapi sebenarnya, gue sudah mengenal rokok dan minuman beralkohol sebelum masuk pesantren. Waktu itu
gue masih tinggal di rumah bokap dan mulai sering bermain dengan teman-teman komplek.
Beberapa teman komplek gue memang sudah nakal.
Kami masih anak SMP, tapi rasa penasaran terhadap banyak hal sudah mulai muncul.
Kalau sekarang gue mengingatnya, menurut gue wajar kalau anak seusia itu punya rasa ingin tahu dan ingin
mencoba banyak hal.
Tapi tentu saja, nggak semua yang kita ingin coba itu benar.
Dan gue termasuk yang ikut mencoba.
Dari lingkungan pertemanan itulah gue mulai mengenal rokok dan minuman beralkohol.
Kalau minum alkohol, gue nggak pernah ketahuan bokap.
Tapi kalau rokok, gue pernah ketahuan.
Dan itu menjadi salah satu kejadian yang akhirnya membuat bokap benar-benar marah kepada gue.
Waktu itu, anak SMP yang merokok masih takut banget kalau ketahuan orang dewasa.
Nggak seperti sekarang yang kadang anak SMP bisa dengan pede ngerokok di pinggir jalan.
Gue dan beberapa teman komplek sering nongkrong di sebuah gazebo di kawasan komplek.
Di sanalah gue pernah ketahuan sedang merokok.
Bapak-bapak di sana langsung marah besar.
Gue disuruh manggil orang tua.
Gue panik.
Buat anak SMP, dimarahin orang dewasa seperti itu rasanya sudah seperti dunia mau runtuh.
Tapi kalau gue lihat lagi sekarang, mungkin mereka memang marah karena tahu gue masih terlalu kecil untuk
melakukan itu.
Dan ketika bokap tahu gue merokok, gue juga dimarahin habis-habisan.
Bokap benar-benar nggak terima gue sudah mulai merokok.
Dari situ, kenakalan gue dianggap sudah semakin nggak bisa ditoleransi.
Dan akhirnya keputusan bokap semakin bulat.
Gue harus masuk pesantren.
Selain merokok, gue juga pernah melawan guru di sekolah.
Gue sering cabut sekolah.
Gue merokok di halaman sekolah.
Gue mulai dikenal sebagai anak yang nakal.
Dan kalau gue jujur kepada diri gue sendiri sekarang, gue memang nakal.
Gue nggak mau menyalahkan semuanya kepada keadaan.
Keadaan keluarga memang berpengaruh besar terhadap gue, tapi tetap saja gue yang memilih beberapa hal
yang gue lakukan.
Saat itu gue belum bisa membedakan mana rasa kecewa, mana kemarahan, dan mana perilaku yang memang
salah.
Semuanya bercampur jadi satu.
Sampai akhirnya bokap memutuskan gue harus masuk pesantren.
Waktu itu gue kelas 3 SMP, sekitar umur 15 tahun.
Gue dikirim ke sebuah pesantren di daerah Lembah Arunika.
Jujur, gue nggak langsung menerima keputusan itu.
Gue malah sempat kabur.