Kemana gue harus pulang?

Catatan Gue
Chapter #4

BAB 3 - Belajar Mengenal Cinta

Setelah lulus dari pesantren, gue masuk SMK seperti yang sudah gue ceritakan di akhir BAB 2.

Bokap yang memilihkan sekolahnya.

Sekolah itu cukup ketat. Kalau dipikir-pikir sekarang, suasananya malah terasa seperti gue balik lagi ke

kehidupan pesantren.

Masuk pagi.

Pulang sore.

Pakaian rapi.

Sepatu juga harus sesuai aturan.

Buat gue waktu itu, sekolah tersebut memang terasa lebih seperti tempat kerja daripada sekolah.

Tapi ada satu hal yang berbeda.

Di SMK, dunia gue mulai jauh lebih luas.

Gue mulai mengenal lebih banyak orang.

Mulai punya lebih banyak teman.

Mulai mengenal lingkungan yang berbeda.

Dan tentu saja...

mulai mengenal perempuan.

Waktu itu gue berusia sekitar 16 tahun.

Kalau gue lihat teman-teman komplek gue, gue sebenarnya sering merasa iri. Mereka banyak yang sekolah di

SMA favorit. Mereka bisa eksis. Mereka sudah membawa motor atau bahkan mobil sendiri.

Orang tua mereka secara finansial juga jauh lebih berada dibanding keluarga gue.

Sementara gue?

Sekolah gue ketat banget.

Rasanya seperti masuk pesantren untuk kedua kalinya.

Hahaha.

Masalahnya, gue juga gampang banget kebawa pergaulan.

Begitu masuk SMK, kenakalan gue yang sempat sedikit berubah ketika di pesantren mulai balik lagi.

Gue mulai sering cabut sekolah.

Berangkat dari rumah bilangnya sekolah, tapi ternyata gue malah pergi ke warnet.

Kadang nongkrong.

Kadang cuma keluyuran sama teman-teman.

Kadang juga minum alkohol.

Dari kelas 1 sampai kelas 2 SMK, gue bisa dibilang jarang masuk sekolah.

Pernah suatu hari gue ketahuan merokok di belakang sekolah bersama beberapa teman.

Akhirnya gue dihukum.

Setiap pulang sekolah, gue harus membersihkan WC sekolah selama kurang lebih tiga bulan.

Kalau sekarang gue ingat, malu juga.

Tapi waktu itu gue malah menjalaninya begitu saja.

Gue memang belum terlalu peduli dengan masa depan.

Nilai sekolah gue juga nggak bagus.

Gue bukan anak yang terlalu pintar.

Dan kalau gue jujur, gue juga malas.

Mungkin dari kecil gue sudah terlalu banyak menghadapi masalah keluarga sampai akhirnya sekolah bukan

sesuatu yang benar-benar gue prioritaskan.

Di sekolah itu gue lumayan dikenal.

Bukan karena prestasi akademik.

Tapi karena gue aktif basket.

Dari basket itulah banyak orang mengenal gue.

Sayangnya, nama gue juga cukup dikenal karena kenakalan.

Beberapa kali bokap dipanggil ke sekolah karena gue ketahuan merokok.

Gue juga pernah melawan guru lagi.

Pernah tidur di kelas saat jam pelajaran.

Pernah berantem dengan siswa lain di WC.

Pernah ikut tawuran dengan sekolah lain.

Jadi ada beberapa guru yang sampai sekarang mungkin masih ingat gue sebagai anak yang bandel.

Hahaha.

Tapi di tengah semua itu, gue sebenarnya punya beberapa sahabat yang baik.

Ada Iyan, Yoga, Seno, dan Oji.

Mereka kebanyakan anak perantauan dari Kota lain dan ngekos nggak jauh dari sekolah.

Kalau dibandingkan dengan gue, kehidupan mereka sebenarnya jauh lebih lurus.

Mereka baik.

Mereka juga sering merangkul gue.

Mereka pernah mengingatkan gue supaya jangan terlalu jauh dalam pergaulan. Mereka sebenarnya ingin gue

jadi lebih baik.

Tapi masalahnya...

gue sudah terlalu nyaman dengan kenakalan gue sendiri.

Nasihat mereka sering gue dengar.

Tapi nggak selalu gue jalankan.

Di luar sekolah, gue juga masih sering berkumpul dengan teman-teman komplek.

Kalau sekolah libur atau sudah pulang sekolah, kami sering nongkrong di sebuah warung dekat rumah yang

waktu itu gue sebut Warung Jaya.

Di sana kami biasa merokok, ngobrol, dan kadang minum-minum.

Untungnya, dari dulu gue memang nggak pernah tertarik dengan narkoba.

Gue nggak pernah mau mencoba.

Say no to drugs.

Walaupun kehidupan gue berantakan, setidaknya untuk hal itu gue masih punya batas.

Tapi untuk sekolah...

gue benar-benar kacau.

Sampai akhirnya ketika kenaikan kelas menuju kelas 3 SMK, gue nggak naik kelas.

Nilai gue jelek.

Ada remedial, tapi gue juga malas mengikutinya.

Gue lebih memilih main.

Lebih memilih nongkrong.

Lebih memilih melakukan hal-hal yang menurut gue menyenangkan saat itu.

Gue belum memikirkan akibatnya.

Tapi justru di masa SMK inilah ada satu hal yang mulai mengubah cara gue melihat kehidupan.

Gue mulai mengenal cinta.

Atau setidaknya...

gue mulai merasa bahwa gue sedang jatuh cinta.

Sebelum gue mengenal perempuan yang nantinya punya tempat paling besar dalam cerita masa remaja gue,

gue sebenarnya sudah beberapa kali pacaran.

Ada seorang perempuan yang dulu gue kenal dari pergaulan masa remaja.

Namanya gue samarkan menjadi Putri.

Gue bahkan sudah lupa sebenarnya kenalan dari mana.

Hubungan itu juga nggak terlalu lama.

Kami lebih banyak berkomunikasi lewat SMS dan Telepon.

Zaman dulu ada paket telepon murah malam hari. Jadi kalau sudah malam, gue bisa teleponan lama.

Waktu itu hubungan lewat SMS nggak selalu cuma sekadar ngobrol biasa. Gue juga pernah mengenal bentuk

komunikasi yang cukup intim lewat telepon.

Jaman sekarang mungkin di bilang Sex by phone.

Kalau sekarang gue mengingatnya, gue cuma bisa geleng-geleng kepala.

Gue masih remaja, belum benar-benar ngerti kehidupan, tapi sudah mencoba hal-hal yang seharusnya gue

pahami dengan lebih matang.

Sebelumnya, ketika gue bahkan belum punya HP, gue pernah memakai telepon rumah untuk menelepon

seorang perempuan.

Namanya gue sudah lupa.

Yang gue ingat justru bokap pernah marah karena tagihan telepon rumah tiba-tiba mahal.

Ternyata nomor yang gue telepon itu sama terus.

Hahaha.

Begitulah masa remaja gue.

Belum punya banyak uang, tapi sudah punya banyak cara untuk mencari masalah.

Setelah putus dengan Putri, gue juga pernah dekat dengan perempuan lain.

Namanya Alya.

Hubungan kami juga nggak lama.

Kami bahkan nggak sering bertemu.

Lebih banyak SMS, telepon, dan komunikasi lewat media sosial yang waktu itu masih ramai digunakan yaitu

facebook.

Hubungan itu tidak berjalan lama karena kami sama-sama menghilang satu sama lain tanpa kejelasan.

Kalau sekarang gue mengingat masa itu, gue memang masih labil.

Masih merasa sok ganteng.

Merasa gampang mendapatkan perempuan.

Dan mungkin karena itu gue belum benar-benar memahami arti perasaan orang lain.

Sampai akhirnya gue bertemu dengan seorang perempuan bernama Laila.

Lihat selengkapnya