Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #1

1. Hari Berteriak


Dunia Rinda Yuliza runtuh bukan karena dentuman besar, melainkan karena sebuah pertanyaan sederhana di Selasa pagi yang mendung.


"Rinda, mana surat keterangan kuliah aktifmu? Ayah butuh hari ini untuk pembaruan daftar tunjangan gaji di kantor," suara Santoso Juandi terdengar berat, menggema di ruang makan yang biasanya hanya diisi suara denting sendok yang canggung.


Rinda membeku. Tangannya yang memegang pinggiran meja gemetar. Rahasia yang ia simpan rapat selama satu semester terakhir—tentang tumpukan tugas yang tak pernah disentuh, tentang kursi kelas yang selalu kosong, dan tentang status "drop out" yang sudah resmi melekat padanya—kini berada di ujung tanduk.


"Rinda?" Santoso mengulang, kali ini dengan nada yang lebih tajam. Analia Kalisa, ibu sambung Rinda, berhenti mengoles selai pada roti Mia yang masih berusia empat tahun. Matanya menatap Rinda dengan penuh selidik. Di sudut lain, Calla sedang asyik dengan gawainya, tak peduli pada ketegangan yang mulai merayap.


"Aku... aku berhenti, Yah," bisik Rinda. Suaranya nyaris hilang ditelan bising kipas angin.


"Apa?"


"Rinda sudah berhenti kuliah sejak semester kemarin."


Hening yang tercipta terasa mencekam, sebelum akhirnya meledak. Santoso berdiri dengan sentakan yang membuat kursi jati itu terjungkal ke belakang. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menegang.


"Berhenti? Kamu pikir kuliah itu main-main?! Berapa juta uang yang sudah Ayah buang untuk biaya masukmu, hah?! Kamu mau jadi apa? Gelandangan?!" teriakan Santoso menggelegar, membuat Mia menangis ketakutan di pelukan Analia.


"Rinda nggak sanggup, Yah... Rinda nggak suka jurusannya..."


Byur!


Cairan cokelat pekat yang masih mengepulkan uap panas menghantam dada dan leher Rinda. Santoso baru saja menyiramkan kopi hitamnya tepat ke arah anak sulungnya itu. Rinda terpekik, kulitnya terasa terbakar, tapi rasa perih di dadanya jauh lebih hebat.


"Nggak sanggup? Dasar anak tidak tahu diuntung! Kamu cuma beban di rumah ini!" Santoso melangkah maju, tangannya mencengkeram rahang Rinda dengan kasar. "Selama ini Ayah bangga-banggakan kamu di depan kolega, ternyata kamu cuma sampah yang membusuk di kamar!"


Lihat selengkapnya