Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #2

2. Hari Mencari

Pagi di Cianjur menyapa dengan kabut tipis yang merayap di sela-sela anyaman bambu—dinding bilik kamar yang kini menjadi semesta baru bagi Rinda Yuliza. Aroma uap kaldu bubur ayam yang gurih menyeruak masuk melalui celah pintu, sebuah wangi yang seharusnya membangkitkan selera, namun bagi Rinda, itu hanyalah pengingat bahwa waktu terus bergulir sementara jiwanya masih tertahan di Selasa pagi yang kelam itu.

Rinda meringkuk di atas dipan kayu yang dialasi kasur kapuk tipis. Matanya menatap kosong ke arah motif anyaman bambu yang bersilangan, seolah mencoba menemukan jalan keluar dari labirin pikirannya sendiri. Di balik dinding itu, ia mendengar suara langkah kaki yang hati-hati, suara denting sendok, dan bisik-bisik yang tertahan.

Pintu kamar berderit pelan. Rahma masuk dengan nampan berisi segelas teh hangat dan semangkuk bubur dengan taburan seledri yang melimpah—persis seperti yang disukai Rinda sewaktu kecil.

"Neng... makan dulu sedikit ya?" suara Rahma lembut, seperti beludru yang menyentuh luka terbuka. Ia duduk di pinggir dipan, menatap punggung kurus putrinya yang gemetar. "Cerita sama Ibu, Neng. Apa yang terjadi di sana? Kenapa lehermu merah begitu? Kenapa pipimu lebam? Ayahmu... apa dia yang melakukannya?"

Rinda tidak bergerak. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Pertanyaan-pertanyaan itu laksana anak panah yang siap menembus pertahanannya. Di kepalanya, suara teriakan Santoso Juandi masih menggema, lebih keras dari suara ibunya. “Dasar anak tidak tahu diuntung!” “Kamu cuma beban!” Bagaimana mungkin ia bisa bercerita? Bagi Rinda, orang dewasa adalah hakim yang mengenakan jubah kepedulian. Jika ia berkata jujur bahwa ia berhenti kuliah, ia takut Rahma pun akan berubah menjadi Santoso. Ia takut akan mendengar kalimat: "Kenapa kamu begitu bodoh?" atau "Wajar kalau Ayahmu marah." Ketakutan akan disalahkan—akan dianggap sebagai pemicu kehancurannya sendiri—membuat lidahnya kelu. Rinda memilih untuk tetap berada di dalam sangkar keheningan, karena di sana, setidaknya tidak ada penghakiman baru.

"Rinda butuh waktu, Ceu," sebuah suara maskulin terdengar dari ambang pintu. Itu Rifan. Paman bungsunya itu bersandar di kusen pintu dengan tatapan prihatin.

Rahma menghela napas panjang, mengusap puncak kepala Rinda sejenak sebelum akhirnya meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil dan melangkah keluar.

Kini giliran Rifan. Ia tidak masuk dengan tumpukan pertanyaan. Ia hanya duduk di kursi jengki di sudut kamar, menyesap kopinya sendiri dalam diam. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Sunyi yang tercipta di antara mereka bukanlah sunyi yang menekan, melainkan sunyi yang memberi ruang.

"Rin," panggil Rifan akhirnya. "Paman nggak tahu apa yang bikin kamu nekat naik bus sendirian ke sini dengan sisa uang seratus ribu. Tapi Paman tahu satu hal, Terminal Pakupatan itu jauh, dan jalanan ke Cianjur itu melelahkan. Kamu sudah sampai di sini, itu berarti kamu selamat dan kamu hebat."

Rinda masih bungkam. Tangannya meremas ujung selimut.

Lihat selengkapnya