Dingin Cianjur menusuk hingga ke sumsum tulang, meluruhkan sisa-sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata. Namun, bagi Rinda Yuliza, rasa dingin itu adalah teman karib yang jauh lebih baik daripada kehangatan palsu yang pernah ia rasakan di Serang. Sebelum semburat jingga fajar menyentuh pucuk-puncak pohon kelapa, Rinda sudah terjaga. Ia adalah orang pertama yang menantang sunyi di rumah bilik itu.
Di kamar sebelah, ia mendengar derit dipan tua. Nenek Jihan sudah bangun. Tanpa perlu dipanggil, Rinda menyampirkan mukena usang milik ibunya yang dipinjamkan padanya. Ia melangkah menuju sumur di belakang rumah. Air yang ia timba terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit, namun Rinda menikmatinya. Setiap tetesan air wudu yang membasahi wajahnya seolah-olah sedang mencuci sisa-sisa caci maki ayahnya yang masih terasa lengket di telinganya.
"Neng, sudah bangun?" suara Nenek Jihan lembut, nyaris seperti bisikan angin malam.
Rinda hanya mengangguk kecil, memberikan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Mereka kemudian berdiri berdampingan di atas sajadah yang mulai menipis helai benangnya. Di dalam keheningan sepertiga malam terakhir, di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang ditiup angin yang menyelinap dari celah bilik, Rinda bersujud. Ia tidak berdoa dengan kata-kata. Hatinya terlalu penuh untuk dirangkai menjadi kalimat. Ia hanya bersujud, membiarkan dahinya menyentuh bumi, merasa begitu kecil dan hancur.
Setelah salam terakhir diucapkan, Nenek Jihan mengusap bahu Rinda. "Tidurlah lagi sebentar, Neng. Subuh masih ada waktu."
Rinda menggeleng. Ia segera melipat mukena dan bergegas menuju dapur. Ada ketakutan besar yang menghantui relung jiwanya: takut dianggap sebagai beban. Kalimat Santoso Juandi—ayahnya—bahwa ia hanyalah sampah dan beban di rumah, telah terpatri begitu dalam. Di Cianjur, di rumah kakek-neneknya yang bersahaja, Rinda tidak ingin menjadi parasit. Ia ingin membayar ruang yang ia tempati dengan keringatnya sendiri.
Maka, dimulailah ritual "penebusan dosa" versi Rinda.
Sambil menunggu azan Subuh berkumandang, ia menyambar ember besar. Ia mulai mencuci tumpukan pakaian keluarga. Tidak ada mesin cuci di sini. Hanya ada papan kayu dan sikat, serta tenaga lengannya yang kian mengurus. Ia menyikat dengan ritme yang teratur, seolah-olah setiap noda di kain itu adalah noda kegagalan dalam hidupnya yang harus ia hilangkan paksa. Tangannya memerah karena deterjen dan air dingin, tapi ia tidak berhenti.
Selesai mencuci, ia beralih ke kamar mandi. Ia menyikat lantai semen yang mulai berlumut hingga kesat. Ia menguras bak mandi tanpa diminta. Setelah itu, sapu lidi di tangannya mulai menari di halaman rumah yang luas. Ia menyapu daun-daun kering pohon mangga, mengumpulkan kerikil yang berserakan, dan memastikan tidak ada satu butir debu pun yang berani menetap di teras rumah Kakek Anwar.
Dari balik jendela dapur, Kamila menatap keponakannya dengan mata berkaca-kaca. Bibinya itu memegang gelas berisi kopi hangat untuk ayahnya, Kakek Anwar.
"Pak, aku nggak tega lihat Rinda," bisik Kamila pada Anwar yang sedang duduk di kursi rotan, mengenakan sarung dan peci hitam. "Anak itu seperti sedang menghukum dirinya sendiri. Dia bangun sebelum subuh, menyapu, mencuci, mengepel... dia bahkan belum sarapan. Dia seperti orang yang takut kalau berhenti sebentar saja, kita bakal mengusirnya."
Kakek Anwar menyesap kopinya pelan, matanya yang mulai kabur menatap sosok Rinda yang sedang giat menyapu di halaman. "Biarkan dia, Mila," jawab Anwar dengan suara parau yang penuh kebijaksanaan. "Rinda itu sedang mencari penghiburan. Di dalam kepalanya, mungkin dia merasa dunia sedang menunjuk wajahnya dan menyebutnya gagal. Dengan bekerja seperti itu, dia merasa sedang membuktikan kalau dia masih berguna. Jangan dilarang, nanti dia malah makin merasa sesak. Biarkan dia 'melayani' rumah ini sampai hatinya merasa cukup."
"Tapi Pak, dia masih kecil. Luka di lehernya saja belum benar-benar kering," keluh Kamila.
"Luka di kulit bisa sembuh pakai salep, Mila. Tapi luka di jiwanya... itu butuh waktu dan penerimaan diri. Biarkan dia menemukan jalannya sendiri di rumah ini."
Menjelang pukul enam pagi, Rahma sudah siap dengan gerobak buburnya. Rinda selalu ada di sana, membantu membungkus kerupuk atau menata mangkuk-mangkuk porselen. Ia bertindak seperti bayangan—cekatan namun bisu. Ia membantu ibunya mendorong gerobak ke ujung Gang Kartini.
Di sana, di bawah pohon beringin yang rimbun, aroma kaldu ayam mulai menyeruak. Rinda melayani pembeli dengan kepala tertunduk. Ia takut jika ia menatap mata orang-orang, mereka akan tahu bahwa ia adalah mahasiswi gagal yang melarikan diri dari kemarahan ayahnya. Ia takut mereka akan melihat bekas tamparan di pipinya yang kini mulai memudar jadi warna keunguan yang samar.
Rahma sesekali melirik putrinya. Ada rasa bersalah yang teramat besar menghimpit dadanya. Selama bertahun-tahun ia membiarkan Rinda tinggal bersama Santoso demi pendidikan yang lebih baik, demi fasilitas yang tidak sanggup ia berikan. Namun kini, melihat putrinya yang hancur seperti ini, Rahma sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan besar. Ia lebih memilih memberikan "masa depan" daripada "kehadiran".
Setelah bubur habis terjual sekitar pukul sepuluh pagi, Rahma mengajak Rinda ke sebuah tempat yang belum pernah dikunjungi gadis itu sebelumnya. Mereka menaiki angkot, melaju menjauh dari pusat kota menuju ke arah dataran yang lebih tinggi, mendekati perbukitan hijau.