Waktu di merambat selambat embun yang menetes dari ujung daun teh, namun bagi Rinda setiap detiknya adalah perjuangan untuk tetap menapak di bumi. Ia masih menjadi sosok yang sunyi, serupa bayangan yang hanya tertangkap mata saat ia bergerak. Lidahnya masih kelu, seolah-olah tamparan Santoso tempo hari telah mengunci rapat kotak suaranya dan membuang kuncinya ke dasar jurang terdalam.
Hari-harinya adalah sebuah repetisi yang kaku. Sebelum fajar menyentuh garis horison, Rinda sudah berjibaku dengan cucian dan lantai yang dingin. Sesekali, ia mengikuti langkah gontai Nenek Jihan menuju musala kayu di ujung gang untuk mengikuti pengajian. Di sana, di antara gumam zikir dan aroma mukena yang wangi kapur barus, Rinda duduk bersila dengan kepala tertunduk. Ia mendengarkan lantunan ayat-ayat suci, namun pikirannya seringkali melayang ke ruang-ruang kuliah yang pernah ia tinggalkan, ke bangku-bangku kosong yang kini mungkin sudah ditempati orang lain. Ia merasa seperti noda di tengah putihnya jamaah pengajian itu—seorang pendosa yang mencari suaka di rumah Tuhan tanpa berani meminta ampunan.
Siang hari, ia masih setia menemani Rahma di balik gerobak bubur ayamnya. Tangannya mulai cekatan membungkus emping dan menyendok sambal, namun matanya tetap menghindari tatapan pembeli. Jika matahari sudah mulai tergelincir ke barat, ia akan berjalan menuju "Rumah Teduh". Di sana, di antara tawa anak-anak yang tak memiliki siapa pun, Rinda menemukan sebuah cermin yang menyakitkan. Ia melihat anak-anak yang dibuang, sementara ia adalah anak yang melarikan diri. Bedanya, anak-anak itu merindukan sebuah pelukan, sedangkan Rinda justru merasa sesak saat pelukan itu datang.
Hingga pada suatu sore yang mendung, saat aroma tanah basah mulai menguar tertiup angin pegunungan, Rifan menunggunya di teras rumah. Paman bungsunya itu sedang melinting tembakau, matanya menatap tajam ke arah jalanan setapak.
"Rin, duduk sebentar. Ada yang mau Paman bicarakan," suara Rifan berat, ada nada kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.
Rinda menurut. Ia duduk di kursi kayu yang permukaannya sudah halus dimakan usia. Ia meremas jemarinya sendiri, sebuah kebiasaan baru setiap kali ia merasa terdesak.
"Ayahmu menelepon Paman tadi pagi," Rifan memulai, suaranya pelan namun bagi Rinda itu terdengar seperti ledakan petir. "Dia tahu kamu di sini. Dia tahu kamu bersembunyi di balik ketiak ibumu."
Tubuh Rinda menegang. Bayangan wajah merah padam Santoso dan siraman kopi panas itu kembali menari-nari di pelupuk matanya. Ia merasa lehernya kembali perih, meski luka fisiknya sudah mulai mengering.
"Paman jujur padanya. Tidak ada gunanya berbohong pada singa yang sedang lapar," Rifan menarik napas panjang, mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Tapi Rin, Paman juga harus jujur padamu. Kami semua di sini sayang padamu. Ibu, Kakek, Nenek... kami senang kamu pulang. Tapi hidup bukan cuma tentang hari ini. Kamu masih muda, masa depanmu masih sepanjang jalan dari sini ke Jakarta. Paman ingin tahu, apa rencanamu setelah ini? Kamu tidak bisa selamanya menyapu halaman dan mencuci piring di sini."
Rinda tetap bungkam. Ia menatap seekor semut yang berjuang membawa remah roti di atas lantai teras.