Keputusan itu akhirnya jatuh seperti sebilah pisau yang memotong sisa-sisa harapan di dada Rinda. Sehari setelah pembicaraan dengan Rifan, di bawah langit Cianjur yang tampak muram seolah turut berduka, Rinda menyerah. Ia tidak memilih Serang karena rindu, tidak pula karena ia mendambakan kemewahan yang ditawarkan Santoso Juandi. Ia memilih kembali karena ia adalah seorang tawanan keadaan; ia tidak ingin menjadi benalu yang perlahan-lahan menghisap napas kehidupan ibunya yang sudah kembang kempis.
“Paman, beri tahu Ayah... Rinda akan pulang,” bisik Rinda pagi itu. Kalimatnya pendek, namun beratnya melampaui ribuan ton beban yang pernah ia pikul.
Rifan mengangguk, ada binar lega sekaligus perih di matanya. Paman bungsunya itu segera menghubungi Serang, memastikan bahwa kepulangan sang putri sulung akan disambut—atau setidaknya, diizinkan.
Dalam palung hatinya yang paling dalam, Rinda menyimpan sebuah angan kekanak-kanakan. Ia membayangkan, saat ia melangkah menuju terminal, ibunya akan berdiri di sampingnya. Rahma akan menggenggam tangannya, menemaninya menempuh perjalanan berjam-jam menuju Serang, melindunginya dari tatapan dingin Santoso, dan meyakinkan dunia bahwa anaknya tidak sendirian. Rinda mendambakan sebuah pembelaan yang nyata, sebuah kehadiran fisik yang menyatakan bahwa ibunya tidak akan lagi membiarkannya tenggelam di rumah kepalsuan itu.
Namun, realitas adalah guru yang kejam.
“Ini untuk ongkosmu, Neng. Simpan baik-baik,” Rahma mengulurkan amplop berisi uang lima ratus ribu rupiah—uang yang entah didapat dari mana, mungkin tabungan bubur ayam berbulan-bulan. Di tangan kirinya, ada bungkusan nasi timbel lengkap dengan ayam goreng dan sambal, bekal untuk di jalan. “Ibu tidak bisa mengantar, gerobak bubur tidak bisa ditinggal hari ini, pesanan sedang banyak.”
Rinda hanya menatap amplop dan nasi itu dengan pandangan kosong. Tidak ada protes. Tidak ada pertanyaan “Kenapa?”. Bibirnya seolah sudah dijahit oleh tradisi kepatuhan yang ditanamkan sejak kecil. Ia telah diajarkan untuk menjadi air; mengalir ke mana pun wadah membawanya, tanpa suara, tanpa gejolak. Ia hanya mengangguk, mencium tangan ibunya yang beraroma bawang dan asap, lalu melangkah menuju motor Rifan.
Terminal Pasir Hayam terasa begitu bising dan menyesakkan. Rifan hanya mengantarnya sampai pintu bus jurusan Serang. “Hati-hati, Rin. Kalau sampai sana, langsung kabari Paman,” pesan Rifan singkat sebelum bus mulai menderu.
Rinda duduk di kursi dekat jendela, memeluk tas ranselnya erat-erat seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya yang tersisa. Bus mulai merayap keluar dari Cianjur, meninggalkan hijau pegunungan menuju aspal panas yang membentang ke barat.
Kemacetan mulai menyergap saat bus memasuki wilayah yang lebih padat. Udara di dalam bus terasa pengap, bercampur antara aroma keringat, asap rokok dari sopir yang sesekali mengepul, dan pewangi ruangan jeruk yang murahan. Penumpang kian menyemut, mengisi setiap celah kosong di lorong bus.
Seorang pria tua, dengan jaket kusam dan topi yang ditarik rendah, duduk tepat di sisi Rinda. Rinda merasa tidak nyaman. Ia menggeser tubuhnya hingga mepet ke jendela, berusaha menciptakan jarak sekecil apa pun. Namun, pria itu seakan memiliki gravitasi jahat; ia justru semakin mendekat, paha kasarnya bergesekan dengan paha Rinda yang terbungkus celana kain.
Bus berguncang hebat saat melewati jalanan yang berlubang. Di tengah guncangan itu, sebuah tangan keriput dengan kuku-kuku yang kotor merayap pelan. Rinda membeku saat merasakan kulit kasar itu menyentuh punggung tangannya yang diletakkan di atas pangkuan.