Rumah itu masih memiliki aroma yang sama, campuran pengharum ruangan aroma lavender yang tajam dan ketegangan yang menggantung permanen di langit-langitnya. Bagu Rinda, setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu atas sebuah eksekusi yang belum benar-benar selesai. Kakinya melangkah tanpa suara di atas lantai granit yang dingin, seolah-olah jika dia menapak terlalu keras, seluruh bangunan ini akan runtuh menimpanya.
Sudah tiga hari sejak kepulangannya dari Cianjur, dan Rinda merasa dirinya tak lebih dari sekadar bayangan yang tersesat. Kehadirannya di rumah itu seperti sebuah anomali—sesuatu yang ada namun diabaikan, sebuah kesalahan cetak dalam narasi keluarga besar Santoso Juandi.
Pagi itu, Rinda terbangun sebelum fajar, sebuah kebiasaan yang terbawa dari rumah neneknya di Cianjur. Namun, di sini tidak ada suara gemericik air pancuran di sela-sela bilik bambu atau aroma bubur ayam yang sedang direbus ibunya. Di sini, yang ada hanyalah sunyi yang steril. Rinda segera menuju dapur, mencoba menyibukkan diri. Dia mencuci piring-piring bekas semalam, menyapu lantai hingga mengkilap, dan menyiapkan air hangat. Dia melakukan segalanya dengan gerakan mekanis, seolah-olah dengan menjadi "berguna," dia bisa membayar hutang rasa bersalah yang tak kasat mata.
"Kau tidak perlu melakukan itu semua, Rinda. Kita punya asisten rumah tangga," suara lembut namun dingin itu mengejutkan Rinda.
Analia berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan daster sutra yang elegan. Matanya menatap Rinda dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa kasihan, namun lebih banyak dominasi di sana.
Rinda tertunduk, tangannya yang masih basah meremas kain lap. "Tidak apa-apa, Ma. Rinda hanya ingin membantu."
Analia mendekat, duduk di kursi meja makan sambil menyesap teh hijaunya. "Duduklah. Mama ingin bicara sebentar."
Rinda menurut dengan kaku. Jantungnya berdegup kencang, mengingatkannya pada getaran bus yang membawanya pulang kemarin—pada sentuhan tangan pria tua yang membuatnya merasa ingin menguliti kulitnya sendiri.
"Papa-mu masih sangat marah, kau tahu itu," Analia memulai, suaranya tenang, nyaris seperti bisikan. "Keputusanmu berhenti kuliah tanpa bicara itu bukan hanya soal pendidikan, tapi soal martabat Papa. Di kantor, dia sudah membanggakanmu sebagai calon sarjana. Sekarang? Dia harus menanggung malu."
Rinda menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Martabat. Selalu soal itu, batinnya. Tidak pernah ada yang bertanya mengapa dia berhenti. Tidak ada yang bertanya apakah dia sanggup menanggung beban jurusan yang dipaksakan padanya.
"Kemarin kau bilang ingin kuliah di Jakarta atau kembali ke Cianjur," Analia melanjutkan, matanya menatap tajam ke arah Rinda. "Rinda, coba berpikir realistis. Jakarta itu hutan rimba. Dengan mentalmu yang... katakanlah, 'mudah menyerah' seperti kemarin, kau hanya akan hancur di sana. Dan Cianjur? Ibu kandungmu bahkan tidak mampu mengantarmu pulang ke sini. Dia hanya memberimu ongkos bus. Apa kau yakin ingin menggantungkan masa depan pada keluarga yang bahkan tidak bisa menjamin makan siangmu besok?"
Kata-kata itu seperti sembilu yang menyayat luka lama. Rinda teringat bagaimana ibunya, Rahma, hanya memeluknya sekilas sebelum dia naik bus. Tidak ada tangisan drama, tidak ada tawaran untuk tinggal selamanya. Hanya doa yang diucapkan pelan dan bekal nasi yang kini terasa hambar di ingatannya.
"Papa ingin kau tetap di Serang," suara Analia kini penuh penekanan. "Ada universitas swasta dekat sini. Jurusan Administrasi atau Ekonomi. Sesuatu yang 'aman'. Papa akan membiayaimu, tapi dengan satu syarat: kau tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Dan satu hal lagi, Rinda... jangan pernah lagi menghubungi orang-orang di Cianjur tanpa izin Papa. Mereka hanya akan memberimu pengaruh yang tidak baik."
Rinda merasa paru-parunya menyempit. Jangan hubungi Cianjur? Hanya di sana dia merasa diterima meski dalam diam. Hanya di sana dia merasa tidak perlu menjadi sempurna untuk mendapatkan sepiring nasi.
"Tapi Ma, Rinda ingin mencoba jurusan yang berbeda..."
"Cukup, Rinda," potong Analia, suaranya naik satu oktav namun tetap terkendali. "Kau sudah menghancurkan satu kesempatan. Sekarang, kau hanya punya pilihan untuk menurut atau keluar dari rumah ini tanpa membawa apa pun. Papa-mu membiarkanmu tinggal di sini saja sudah merupakan mukjizat setelah apa yang kau lakukan."
Pembicaraan itu berakhir begitu saja ketika suara langkah berat terdengar dari tangga. Santoso Juandi turun dengan pakaian kantor yang rapi. Dia melewati meja makan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rinda. Seolah-olah Rinda adalah udara kosong.