Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #7

7. Hari Tersalahkan

Pagi itu, Serang diselimuti mendung tipis yang menggantung rendah, seolah langit pun enggan menyaksikan sandiwara yang akan segera dipentaskan di kediaman Santoso Juandi. Rinda sudah berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja putih tulang dan rok kain berwarna gelap—pakaian yang menurut Analia akan memberikan kesan "mahasiswi yang patuh dan berakal budi." Rambutnya yang biasanya dibiarkan tergerai lemas kini diikat rapi. Ia menatap pantulan dirinya, mencoba mencari jejak Rinda yang dulu memiliki binar di matanya, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata cekung yang hampa, seperti sumur tua yang sudah lama mengering.


Brosur universitas itu tergeletak di atas meja rias, selembar kertas yang bagi Rinda tak lebih dari sekadar surat kontrak penyerahan diri. Ia sudah bersiap untuk menyeret langkahnya menuju kampus yang tidak ia inginkan, demi sebuah penebusan dosa yang sebenarnya tidak ia lakukan.


Namun, ketenangan semu itu pecah oleh dering telepon yang menyalak nyaring dari lantai bawah. Suara itu bukan sekadar dering biasa; ia terdengar seperti lonceng kematian bagi rencana-rencana yang baru saja disusun semalam.


Rinda menahan napas di balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Ia mendengar derap langkah kaki Santoso yang berat menuju ruang tengah, disusul suara baritonnya yang tegas menyapa penelepon di seberang sana.


"Ya, ini Santoso Juandi. Ada apa, Pak Kepala Sekolah?"


Hening sejenak. Rinda bisa merasakan atmosfer di rumah itu mendadak berubah. Suhu udara seolah turun beberapa derajat. Detak jantung Rinda berpacu, sebuah insting purba memperingatkannya bahwa prahara baru saja mengetuk pintu.


"Apa?! Tidak mungkin!" suara Santoso meledak, menggetarkan pigura-pigura foto keluarga yang terpajang rapi di dinding lorong. "Adji tidak mungkin melakukan itu! Dia anak yang saya didik dengan keras! Mencuri? Bapak jangan sembarangan menuduh!"


Rinda mematung. Adji. Adik laki-lakinya yang masih duduk di kelas satu SMA di sebuah sekolah asrama bergengsi di luar kota. Adji, yang selama ini menjadi kebanggaan kedua Santoso setelah posisinya di kantor.


"Dikeluarkan? Hari ini juga?" Suara Santoso kini terdengar serak, ada nada tidak percaya yang bercampur dengan kemarahan yang meluap-luap. "Saya akan ke sana. Sekarang juga!"


Telepon ditutup dengan bantingan yang keras. Rinda mendengar suara langkah kaki Analia yang terburu-buru menghampiri suaminya.


"Pa, ada apa? Kenapa berteriak begitu?" tanya Analia, suaranya sarat dengan kecemasan yang dibuat-buat namun cukup untuk memicu ledakan emosi Santoso.


"Adji! Anak itu sudah gila! Dia mencuri uang kas kelas dan beberapa ponsel temannya. Pihak sekolah sudah tidak mau berkompromi. Dia dikeluarkan, Analia! Nama baikku... hancur seketika!" Santoso mengerang frustrasi. Suara hantaman tangan ke meja makan terdengar memilukan.


Rinda merasa dunianya seolah berputar. Adji mencuri? Adji yang selama ini terlihat begitu penurut dan pendiam? Di balik keterkejutannya, ada rasa lega yang aneh merayap di dada Rinda—sebuah kelegaan yang jahat karena hari ini dia mungkin tidak jadi mendaftar kuliah. Namun, rasa itu segera tenggelam oleh ketakutan yang lebih besar.


Benar saja. Suara Santoso kembali menggelegar, kali ini memanggil namanya dengan nada yang penuh racun.


"Rinda! Turun kamu! Rinda!"

Lihat selengkapnya