Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #8

8. Hari Tenang

Rumah besar di sudut perumahan elit itu mendadak kehilangan taringnya. Suasana yang biasanya mencekam, penuh dengan ranjau kata-kata tajam dan tatapan menghakimi, kini meluruh menjadi sebuah keheningan yang syahdu. Pintu depan yang tadi terbanting keras seolah-olah membawa pergi seluruh racun yang selama ini menyesakkan dada Rinda. Santoso dan Analia telah berangkat, membawa serta badai emosi mereka menuju sekolah Adji. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rinda merasa rumah ini benar-benar menjadi miliknya.


Rinda berdiri di tengah ruang tamu, memejamkan mata, dan menghirup udara dalam-dalam. Tidak ada aroma parfum Analia yang menyengat, tidak ada suara geraman rendah ayahnya. Yang ada hanyalah suara detak jam dinding dan desis halus pendingin ruangan. Ia merasa seperti seorang tawanan yang pintunya tidak sengaja dibiarkan terbuka oleh penjaga yang lalai.


Langkahnya terasa ringan saat ia menuju dapur. Ia menyeduh teh melati, aroma yang dulu sering ia hirup saat berada di Cianjur bersama neneknya. Ia membawa cangkir hangat itu ke balkon kamarnya, duduk di sana tanpa rasa takut akan ditegur karena dianggap "bersantai-santai." Rinda membiarkan angin sepoi-sepoi membelai wajahnya. Beban yang tadi menindih pundaknya—tuduhan sebagai kakak yang gagal, investasi bodong, pembawa sial—perlahan-lahan menguap bersama uap tehnya.


"Nyaman sekali," bisiknya pada langit yang mulai cerah setelah hujan.


Rinda menyadari sesuatu yang menyedihkan: kebahagiaannya ternyata sangat sederhana, yakni ketidakhadiran keluarganya sendiri. Di dalam kesendirian ini, ia tidak perlu menjadi topeng. Ia tidak perlu menjadi "Rinda yang penurut" atau "Rinda yang serba salah." Ia hanya perlu menjadi Rinda.


Di tengah ketenangan itu, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Shila, kawan lamanya semasa SMA yang kini berkuliah di Bandung. Shila adalah satu-satunya orang yang tahu sedikit banyak tentang kegemaran Rinda merangkai kata di balik buku catatan lusuhnya.


Shila: Rin, apa kabar? Aku ingat kamu suka menulis cerita pendek dulu. Kamu masih menulis? Aku baru saja bergabung di sebuah platform menulis online. Namanya 'Literasi Nusantara'. Mereka sedang mencari penulis baru, dan bayarannya lumayan, Rin. Bisa per bab atau kontrak eksklusif. Kamu mau coba? Daripada tulisanmu cuma mengendap di laptop.


Rinda menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Menulis? Dibayar? Selama ini, menulis baginya hanyalah cara untuk membuang sampah emosi. Ia tidak pernah berpikir bahwa kata-kata yang ia susun dari rasa sakit bisa memiliki nilai material. Namun, kata "bayaran" itu berdenyut di kepalanya seperti lampu neon yang terang. Bayaran berarti uang. Uang berarti kemandirian. Dan kemandirian berarti jalan keluar dari penjara ini.


Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membalas pesan Shila.


Rinda: Bagaimana caranya, Shil? Apa mereka mau menerima penulis amatir sepertiku?


Tak butuh waktu lama, Shila mengirimkan sebuah tautan dan sebuah nomor kontak WhatsApp.


Shila: Hubungi Mbak Arini, dia editor di sana. Bilang saja referensi dariku. Kamu harus kirim plot cerita, daftar karakter, dan lima bab awal sebagai sampel. Coba saja, Rin. Ceritamu selalu punya rasa yang beda. Dingin tapi menusuk. Aku suka.

Lihat selengkapnya