Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #9

9. Hari Bercerita

Rumah itu kini berubah menjadi sebuah monumen bisu. Jika beberapa hari yang lalu dinding-dindingnya bergetar oleh gelegar amarah Santoso, kini kediaman itu tenggelam dalam jenis sunyi yang jauh lebih mengerikan: kebisuan yang terencana. Tidak ada teriakan, tidak ada piring yang pecah, bahkan tidak ada sindiran tajam. Yang ada hanyalah kekosongan yang padat, sebuah ruang hampa di mana suara napas pun terasa seperti sebuah kelancangan.


Santoso Juandi bertransformasi menjadi sosok asing yang bergerak seperti robot. Ia berangkat kantor tanpa sepatah kata, pulang dengan wajah datar yang sekeras batu pualam, lalu duduk di meja makan tanpa pernah mengarahkan pandangannya pada Rinda maupun Adji. Ia memperlakukan kedua anaknya seolah-olah mereka adalah perabot lama yang sudah tidak berfungsi namun belum sempat dibuang ke gudang.


Analia, dengan keanggunannya yang manipulatif, menjadi arsitek di balik keheningan ini. Ia telah berhasil meredam ledakan Santoso terhadap Adji—anak laki-laki kesayangan suaminya—dengan alasan "kesehatan mental" dan "menjaga martabat di depan tetangga." Namun, dalam prosesnya, ia juga menciptakan dinding kaca yang tebal. Ia bersikap seolah-olah tidak ada badai yang baru saja lewat. Ia menyiapkan sarapan dengan senyum tipis yang hambar, membicarakan cuaca atau tanaman hiasnya, namun sama sekali tidak menyentuh topik tentang masa depan kuliah Rinda atau sekolah baru untuk Adji.


Rinda merasa seperti terjebak dalam sebuah sandiwara absurd. Kebingungan menyelimuti benaknya setiap kali ia berpapasan dengan ayahnya di koridor. Ia menunggu makian, ia menunggu instruksi, atau setidaknya sebuah kepastian. Namun, Santoso hanya melewatinya begitu saja, membiarkan aroma parfum maskulinnya tertinggal sebagai pengingat akan kehadirannya yang dingin.


Rencana kuliah yang sebelumnya dibahas dengan penuh tekanan kini menguap begitu saja. Brosur universitas di atas meja rias Rinda mulai berdebu, menjadi saksi bisu atas ketidakpastian yang mencekik. Rinda merasa lega karena tidak perlu dipaksa masuk ke jurusan yang ia benci, namun di sisi lain, ia merasa sakit hati. Diabaikan ternyata jauh lebih menyakitkan daripada dimarahi. Diabaikan berarti dianggap tidak ada.


Di tengah kebisuan yang membeku itu, Rinda menemukan satu-satunya pelarian melalui ujung jarinya. Setiap malam, setelah memastikan pintu kamarnya terkunci, ia akan menyalakan laptop. Cahaya biru dari layar adalah satu-satunya teman bicaranya. Ia terus menulis naskah "Labirin Tanpa Pintu" untuk platform Literasi Nusantara. Menulis bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah tindakan bertahan hidup. Di dunia digital itu, ia adalah pencipta takdirnya sendiri, bukan sekadar "investasi bodong" di mata ayahnya.


Namun, rasa ingin tahunya terhadap Adji terus mengusik. Adji, remaja enam belas tahun yang biasanya ceria, kini lebih banyak mengurung diri di kamar. Ia keluar hanya untuk makan dengan gerakan yang kaku, lalu kembali menghilang di balik pintu kayu jati yang kokoh.


Suatu malam, ketika hujan turun rintik-rintik dan seluruh isi rumah sudah terlelap dalam kesunyian masing-masing, Rinda memberanikan diri mengetuk pintu kamar Adji. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih pelan.


"Dji, ini Teteh. Boleh masuk?"


Hening sejenak sebelum terdengar suara kunci diputar. Adji berdiri di sana dengan kaos oblong hitam dan mata yang sembab. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya berbalik dan duduk kembali di tepi tempat tidurnya, menatap kosong ke arah poster band yang sudah mulai mengelupas di dinding.


Rinda masuk dan duduk di kursi belajar Adji. Ruangan itu berbau apek, seolah-olah sirkulasi udara di sana ikut berhenti karena beban pikiran penghuninya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Rinda lembut, sebuah pertanyaan retoris yang sebenarnya ia tahu jawabannya.

Lihat selengkapnya