Pagi itu, sinar matahari Serang menyelinap malu-malu melalui celah gorden ruang tengah, menyinari butiran debu yang menari di udara seolah merayakan berakhirnya masa berkabung bisu di rumah Santoso Juandi. Di atas meja makan yang biasanya menjadi arena penghakiman, kini tergeletak sebuah bungkusan plastik bening berisi seragam SMA swasta yang masih kaku, lengkap dengan aroma kain baru yang tajam.
Santoso duduk di sana, menyesap kopi hitamnya dengan punggung tegak—sebuah postur yang menunjukkan bahwa otoritasnya belum goyah sedikit pun. Di depannya, Adji berdiri mematung, menatap seragam itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mulai besok, kamu masuk ke sekolah itu," suara Santoso terdengar rendah, namun tidak lagi meledak-ledak. "Papa sudah urus semuanya. Tidak perlu asrama. Kamu pulang pergi dari rumah. Jangan buat malu lagi."
Adji menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang membawa sisa-sisa sesak dari masa lalunya di sekolah asrama. Ia mengulurkan tangan, menyentuh kain seragam itu. Di balik rasa enggan karena lagi-lagi hidupnya didikte oleh sang ayah, ada secercah kelegaan yang amat sangat merayapi palung hatinya. Bagi Adji, seragam ini bukan sekadar pakaian sekolah; ini adalah tiket keluar dari neraka kelaparan yang tersembunyi.
Pikirannya melayang pada lorong-lorong sunyi di sekolah asramanya yang lama. Ia teringat bagaimana perutnya seringkali berbunyi nyaring di tengah malam, sementara kantin sudah terkunci rapat. Bahkan saat kantin buka, Adji seringkali hanya bisa berdiri di pojokan, menatap teman-temannya yang menggesek kartu makan dengan riang. Kartu Adji? Kosong. Terblokir karena tunggakan administrasi yang tak kunjung dilunasi Santoso. Rasa malu karena harus menerima "sedekah" nasi bungkus dari kawan-kawannya jauh lebih menyiksa daripada rasa lapar itu sendiri. Di rumah ini, meski dingin, setidaknya ada nasi di dalam penanak dan air di dalam dispenser.
Santoso mengeluarkan selembar uang lima ratus ribu dari dompet kulitnya, meletakkannya di samping seragam. "Ini uang jajanmu untuk beberapa hari ke depan. Gunakan dengan benar."
Adji mengambil uang itu. Itu adalah jumlah yang besar bagi seorang pelajar, namun terasa seperti "uang tutup mulut" agar ia tetap menjadi pion yang patuh. Ia mengangguk pelan, membawa seragam itu masuk ke kamarnya tanpa protes. Kepatuhan adalah mata uang tunggal yang berlaku di bawah atap ini.
Rinda menyaksikan interaksi itu dari ambang pintu dapur. Ia melihat celah kecil di benteng pertahanan ayahnya. Santoso terlihat lebih tenang, atau mungkin lebih tepatnya, ia telah mencapai titik jenuh dalam kemarahannya. Inilah saatnya. Rinda tahu, jika ia tidak bicara sekarang, ia akan selamanya terkubur dalam ketidakpastian.
Ia melangkah mendekati meja makan, menarik kursi di hadapan ayahnya. Santoso tidak mendongak, ia hanya membolak-balik koran di tangannya, seolah Rinda hanyalah gangguan kecil dalam rutinitas paginya.
"Pa, Rinda mau bicara," ucapnya, suaranya terdengar lebih stabil daripada yang ia duga.
Santoso hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan.
"Soal kuliah... Rinda sudah memutuskan," lanjut Rinda, tangannya meremas ujung kaosnya di bawah meja. "Rinda ingin bekerja dulu. Rinda mau mengumpulkan biaya sendiri untuk kuliah nanti. Jadi... Papa tidak perlu memikirkan biaya kuliah Rinda lagi. Rinda tidak mau jadi beban."
Gerakan tangan Santoso berhenti. Ia menurunkan korannya perlahan, menatap Rinda dengan sepasang mata yang sedingin es pualam. Ada kilat penghinaan yang melintas di sana, namun tertutup oleh sikap acuh tak acuh yang dipaksakan.