Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #11

11. Hari Patah Hati

Terminal Pasir Hayam menyambut Rinda dengan debu yang beterbangan dan aroma solar yang khas, namun bagi Rinda, udara di sini terasa jauh lebih ringan daripada oksigen yang ia hirup di Serang. Ada semacam gravitasi emosional yang selalu menariknya kembali ke Cianjur, tempat di mana kemiskinan setidaknya tidak dibalut dengan kemunafikan.


Rinda turun dari angkot biru, menyusuri gang Kartini dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, sebuah tas punggung berisi seluruh dunianya—pakaian, laptop, dan harapan. Ia melihat gerobak bubur ayam ibunya di depan rumah. Rahma sedang sibuk melayani pembeli, uap panas mengepul dari panci besar, menciptakan siluet yang familiar di mata Rinda.


"Ibu," panggil Rinda pelan.


Rahma mendongak, matanya berbinar seketika. "Rinda? Ya Allah, Nak, kenapa tidak kasih kabar kalau mau datang?"


Rinda tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi kaku. Ia membantu ibunya membereskan mangkuk-mangkuk kotor. Rinda sudah terbiasa dengan keringat dan kerja keras. Jauh sebelum Santoso Juandi menumpuk pundi-pundi kekayaannya dan membangun istana pualam di Serang, Rinda kecil sudah tahu rasanya berjualan keripik atau membantu tetangga hanya demi kepingan logam untuk membeli buku tulis. Hidup seadanya bukan hal baru baginya; itu adalah bahasa ibunya yang ia kuasai dengan fasih.


Setelah dagangan bubur habis, mereka duduk di dipan kayu di ruang tengah yang berdinding bilik. Kamila dan Rifan sedang tidak ada di rumah, menyisakan ruang bagi ibu dan anak itu untuk bicara dari hati ke hati.


"Ibu, Rinda datang mau pamit. Rinda mau ke Bandung," Rinda memulai pembicaraan, suaranya tenang namun penuh tekad. "Ada teman yang carikan kerja di sana. Rinda mau kumpulkan uang sendiri untuk kuliah. Rinda tidak mau lagi bergantung pada Papa."


Rahma menghentikan kegiatannya melipat serbet. Ia menatap putrinya dengan tatapan haru bercampur bangga. "Bandung itu jauh, Nak. Tapi kalau itu maumu, Ibu hanya bisa mendoakan. Kamu anak kuat, Rinda. Sejak kecil kamu tidak pernah menyusahkan."


Rinda merasa sebuah beban terangkat dari dadanya. Persetujuan ibunya adalah validasi yang selama ini ia cari. Namun, saat Rinda baru saja hendak menarik napas lega, Rahma memegang tangannya. Ada rona merah yang asing di pipi ibunya yang mulai keriput.


"Rinda... sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin Ibu ceritakan. Ibu tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi Ibu merasa kamu harus tahu sebelum kamu pergi."


Jantung Rinda berdesir. Instingnya menangkap nada yang berbeda dari suara ibunya—nada yang penuh dengan percik kebahagiaan yang jarang ia dengar.


"Ibu... Ibu berencana akan menikah lagi," bisik Rahma, matanya menatap jari-jarinya sendiri dengan malu-malu.


Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Rinda. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan Santoso tempo hari.


"Menikah lagi?" ulang Rinda, suaranya nyaris hilang di antara derit lantai kayu.


"Iya. Namanya Pak Burhan. Dia duda, istrinya meninggal tiga tahun lalu. Dia punya anak satu, masih kecil, seusia Mia," Rahma melanjutkan dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat lancar, penuh dengan semangat yang meluap-luap. "Kami bertemu di pasar sebulan lalu. Dia orang baik, Rinda. Dia tidak keberatan dengan masa lalu Ibu. Dia ingin kita hidup bersama, dia punya rumah kecil dekat kaki Gunung Gede..."


Rinda hanya bisa terpaku. Ia menatap wajah ibunya yang kini terlihat sepuluh tahun lebih muda. Kebahagiaan itu begitu nyata, begitu bercahaya, hingga Rinda merasa silau dan tersisih. Di satu sisi, ia ingin memeluk ibunya dan bersyukur karena akhirnya wanita itu menemukan sandaran. Namun di sisi lain, ada badai yang mulai mengamuk di dalam hatinya.

Lihat selengkapnya