Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #12

12. Hari Beraroma

Bandung pagi itu tidak hanya menawarkan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, tetapi juga aroma bawang goreng yang menari-nari di udara, bercampur dengan uap panas dari rebusan kaldu ayam yang gurih. Rinda berdiri di depan gerbang sebuah rumah besar di kawasan rindang yang tidak terlalu bising. Di papan kayu kecil yang tergantung rapi, tertulis dengan gaya tulisan tangan yang elok: “Dapur Asti – Masakan Rumah dengan Cinta.”


Langkah Rinda terasa ringan saat ia memasuki area belakang rumah yang disulap menjadi dapur semi-terbuka yang sangat luas dan bersih. Di sana, ia disambut oleh Bu Asti, wanita paruh baya dengan gincu merah muda yang lembut dan mata yang selalu terlihat tersenyum. Pak Bud, suaminya, tampak sibuk memeriksa catatan logistik di sudut ruangan sembari sesekali menyesap kopi hitamnya.


"Kamu Rinda? Temannya Shila?" Bu Asti mendekat, aroma serai dan lengkuas seolah menjadi parfum alaminya. Tanpa banyak tanya yang menyudutkan, ia langsung menepuk bahu Rinda dengan hangat. "Selamat datang di keluarga kecil kami. Jangan sungkan, di sini kita semua saudara."


Kalimat "kita semua saudara" biasanya terdengar seperti basa-basi korporat di telinga Rinda, namun saat diucapkan oleh Bu Asti, ia merasakan ketulusan yang murni. Tidak ada tatapan menilai seperti yang dilakukan Analia, tidak ada aura intimidasi seperti milik Santoso.


Rinda kemudian diperkenalkan kepada "penduduk" dapur lainnya. Ada Teh Lulu, seorang janda muda dengan sorot mata yang tegar, yang sudah mengabdi di sini sejak ia masih gadis. Teh Lulu memiliki seorang anak kecil yang sesekali terlihat bermain tenang di teras depan. Lalu ada Kang Handi, pria paruh baya yang bertindak sebagai "jenderal" di depan kompor-kompor mawar bertekanan tinggi. Ada pula Kang Jaka yang tangkas mengangkat dandang-dandang berat, serta Bi Tinah, wanita sepuh yang bertugas memastikan sayur-mayur tetap segar dan bersih.


"Ayo, Rinda, jangan diam saja. Coba bantu Bi Tinah potong-potong wortel dan buncis itu," titah Kang Handi dengan nada yang tegas namun tidak kasar.


Rinda segera mencuci tangannya, mengenakan apron cokelat yang disediakan, dan mengambil pisau dapur yang terasa mantap di genggamannya. Di sinilah letak keajaiban kecil itu bermula.


Bi Tinah sempat ragu melihat jemari Rinda yang terlihat halus. "Hati-hati, Neng, pisaunya tajam sekali. Pelan-pelan saja."


Namun, Rinda hanya tersenyum tipis. Ia meletakkan seikat buncis di atas talenan kayu yang tebal. Tak-tak-tak-tak-tak. Bunyi pisau yang beradu dengan talenan terdengar seperti ritme perkusi yang sempurna. Potongan buncis itu jatuh dengan ukuran yang sangat presisi, seragam, dan cepat. Sejak kecil, membantu ibunya menyiapkan bahan bubur ayam di gang Kartini telah melatih otot tangannya dengan cara yang tidak disangka-sangka.


Kang Handi yang sedang mengaduk bumbu rendang di kuali raksasa menoleh, alisnya terangkat tinggi. "Wah, sekolah di mana kamu, Neng? Potongannya rapi sekali, seperti koki profesional."


"Hanya sering bantu Ibu, Kang," jawab Rinda rendah, wajahnya sedikit merona karena pujian tulus itu.


Lihat selengkapnya