Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #13

13. Hari Menenun Nasib

Pukul dua dini hari adalah sebuah kanvas biru tua yang dibasahi embun, di mana sunyi bukan berarti mati, melainkan sebuah jeda sebelum hiruk-pikuk kota kembali menderu. Di kamar mess yang bersahaja itu, alarm di ponsel Rinda bahkan belum sempat berbunyi ketika kelopak matanya terbuka dengan sendirinya. Tubuhnya seolah memiliki jam biologis yang tertanam sejak tahun-tahun panjang ia tinggal bersama neneknya di Serang—sebuah disiplin yang lahir dari kebiasaan menyiapkan diri sebelum dunia benar-benar terjaga.


Rinda duduk di tepi kasur, membiarkan kakinya menyentuh lantai dingin sejenak untuk mengusir sisa kantuk. Ia menyalakan lampu meja yang temaram, lalu membuka laptopnya. Ini adalah ritual sucinya. Satu jam pertama adalah milik jiwanya. Jemarinya mulai menari di atas tuts keyboard, melanjutkan bab-bab terbaru untuk platform Literasi Nusantara. Di bawah nama pena "Yuliza", Rinda tidak lagi merasa seperti gadis yang terbuang. Ia adalah pencipta yang berdaulat. Setiap paragraf yang ia susun adalah katarsis—cara baginya untuk membedah luka-luka lama dan menjahitnya kembali dengan benang-benang harapan yang baru.


Setelah satu jam berlalu dan naskahnya terkirim ke editor, Rinda beranjak mengambil wudhu. Di atas sajadah kecil di sudut kamar, ia melaksanakan sholat malam. Dalam sujudnya yang panjang, tidak ada lagi tuntutan atau rasa takut disalahkan. Ia hanya berbisik pada Sang Khalik, mensyukuri napas yang kini terasa lebih lapang. Keheningan itu adalah pelukan yang selama ini ia cari di rumah ayahnya namun tak pernah ia temukan.


Pukul tiga pagi, aroma uap nasi yang baru matang mulai merembes dari celah pintu dapur utama. Rinda melangkah keluar, mengenakan jaket rajutnya yang tebal. Di dalam dapur, ia sudah melihat Bu Asti dan Pak Bud. Mereka adalah duet yang harmonis di depan dandang-dandang besar. Pak Bud sedang mengangkat nasi yang baru setengah matang untuk di-aron, sementara Bu Asti menyiapkan bumbu kuning untuk nasi uduk.


"Pagi, Neng Rinda. Selalu saja kamu ini jadi yang pertama bangun," sapa Pak Bud dengan suara baritonnya yang hangat.


Rinda tersenyum, segera mengambil celemek dan mulai mencuci tangan. "Sudah terbiasa, Pak. Apa yang bisa Rinda bantu?"


Tanpa perlu banyak instruksi, Rinda langsung bergerak menuju tumpukan bawang merah yang harus dikupas. Ia bekerja dengan ritme yang teratur, cekatan, dan yang paling disukai oleh Bu Asti: Rinda bekerja dalam diam yang produktif. Ia tidak pernah mengeluh meski tangannya mulai terasa perih karena getah bawang atau punggungnya pegal karena terlalu lama membungkuk.


Selama beberapa hari bekerja di sana, Bu Asti terus memperhatikan Rinda. Wanita paruh baya itu memiliki insting keibuan yang tajam. Ia melihat potensi besar di balik jemari Rinda yang luwes mengolah bahan makanan.


"Rinda," panggil Bu Asti suatu pagi, saat mereka sedang beristirahat sejenak sambil menyesap teh hangat. "Ibu lihat kamu punya bakat alami di dapur. Kamu tahu jenis bumbu, potonganmu rapi, dan insting rasamu tajam. Sayang kalau cuma berhenti jadi asisten catering saja."


Rinda mendongak, sedikit terkejut. "Maksud Ibu?"


"Kenapa kamu tidak kuliah lagi, Neng? Tapi kali ini, ambil jurusan yang memang searah dengan apa yang kamu kerjakan sekarang. Tata Boga. Ibu dengar ada kampus yang bagus di daerah Cileunyi. Kalau kamu punya ilmunya, suatu saat kamu bisa punya usaha sendiri, seperti Ibu dan Bapak," saran Bu Asti tulus.


Pak Bud mengangguk setuju. "Benar, Neng. Bapak dan Ibu dukung. Soal jadwal kerja, kita bisa atur supaya tidak bentrok dengan jam kuliahmu. Kamu anak pintar, sayang kalau tidak punya gelar yang mendukung keahlianmu."


Saran itu bagaikan bensin yang menyiram bara api kecil di hati Rinda. Selama ini, ia menganggap kuliah adalah beban karena jurusan yang dipilihkan ayahnya. Namun kini, bayangan tentang mempelajari seni kuliner secara profesional terasa sangat menggairahkan. Ia membayangkan dirinya bukan lagi sebagai pegawai, melainkan sebagai pemilik sebuah dapur yang penuh cinta, seperti Dapur Asti.

🌻🌻🌻

Lihat selengkapnya