Bandung adalah kota yang pandai bersolek. Di setiap sudutnya, aroma kopi mahal mengepul dari kafe-kafe estetik, tawa mahasiswa pecah di bioskop-bioskop pusat perbelanjaan, dan kerumunan anak muda dengan pakaian tren terbaru memadati trotoar Braga. Namun, bagi Rinda Yuliza, Bandung hanyalah sebuah panggung besar tempat ia melakoni peran paling sunyi dalam hidupnya.
Kehidupan ganda Rinda dimulai sebelum matahari sempat menyapa pucuk-pucuk pohon pinus. Sebagai asisten catering sekaligus mahasiswa semester pertama jurusan Tata Boga, waktu adalah komoditas paling mewah yang ia miliki. Dan penghematan adalah agama yang ia peluk dengan sangat fanatik.
Di kampus, Rinda adalah sosok yang misterius. Ia tidak pernah terlihat di kantin universitas yang riuh. Saat teman-teman seangkatannya sibuk merencanakan kunjungan ke pameran seni atau sekadar nongkrong di coffee shop hits daerah Dago, Rinda akan menyelinap ke sudut perpustakaan atau bangku taman yang sepi. Ia akan membuka tas punggungnya, mengeluarkan kotak makan plastik berwarna pudar yang telah ia siapkan sejak subuh di Dapur Asti.
Isinya sederhana nasi putih hangat, sepotong ayam goreng sisa produksi catering, dan tumis sayuran yang sudah sedikit layu. Bagi orang lain, mungkin itu pemandangan yang menyedihkan. Namun bagi Rinda, setiap suapan nasi itu adalah rasa syukur yang nyata. Nasi itu adalah hasil keringatnya, dan yang terpenting, nasi itu tidak dibayar dengan harga diri yang diinjak-injak oleh Santoso Juandi.
Rinda memperlakukan masa mudanya layaknya sebuah persembahan yang harus ia tunda demi masa depan. Ia melewati deretan toko baju di pusat kota tanpa menoleh sedikit pun. Keinginannya untuk membeli lipstik baru atau sepatu yang sedang tren ditebas habis oleh logika yang dingin: Apakah benda ini akan membawaku lebih dekat ke gelar sarjana? Apakah benda ini akan memberiku modal untuk membuka usaha sendiri?
Jawabannya selalu tidak. Maka, Rinda tetap dengan sepatu ketsnya yang mulai menipis solnya dan dua pasang kemeja yang ia pakai bergantian. Ia tidak butuh validasi dari tatapan orang asing di mal. Validasi baginya adalah melihat saldo tabungannya bertambah, rupiah demi rupiah, dari hasil memotong bawang dan merangkai kata di Literasi Nusantara.
"Rin, sekali-sekali ikutlah nonton. Ada film bagus pekan ini," ajak salah seorang teman sekelasnya suatu kali.
Rinda hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang berfungsi sebagai benteng. "Maaf, tugas kateringku sedang banyak," jawabnya sopan.
Kebohongan kecil itu adalah perlindungannya. Ia tidak ingin orang lain tahu betapa tipisnya batas antara keberlangsungan hidup dan kegagalannya. Ia lebih memilih dianggap "kutu buku yang membosankan" daripada dikasihani sebagai "mahasiswi miskin."
Satu-satunya kemewahan yang Rinda izinkan untuk dirinya sendiri adalah ritual makan bakso di ujung gang setiap Sabtu sore bersama Teh Lulu. Saat catering libur dari pesanan besar, mereka akan duduk di bangku kayu panjang yang goyah, di bawah tenda plastik yang beraroma asap kaldu dan sambal cair.
"Makan yang banyak, Rin. Badanmu itu sudah kayak lidi ditiup angin," seloroh Teh Lulu sembari menuangkan kecap manis ke mangkuknya.
Rinda tertawa kecil. Di depan Teh Lulu, Rinda merasa bisa melepaskan sedikit bebannya. "Bakso ini sudah terasa seperti makanan hotel bintang lima, Teh. Lebih enak daripada steak mahal," ucap Rinda tulus.