Kemarin Yang Hilang

Yellowflies
Chapter #15

15. Hari Terungkap


Sore itu, langit Bandung melukiskan gradasi jingga yang melankolis, memantulkan pendar hangat pada kaca jendela ruang tamu Dapur Asti. Aroma melati dari teh yang baru saja diseduh Bu Asti memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang seharusnya tenang, namun bagi Rinda, ada getaran halus yang membuat jemarinya sedikit dingin.

Di sofa kayu yang kokoh, duduklah Rahma. Wajahnya yang dulu sering terlihat kuyu oleh uap bubur kini tampak lebih segar, ada rona kebahagiaan yang tulus terpancar dari matanya. Di sampingnya, seorang pria paruh baya bertubuh tegap namun memiliki tatapan mata yang sangat teduh duduk dengan sikap hormat. Ia adalah Pak Burhan, suami baru Rahma.

"Teh, Ibu sengaja datang tanpa kabar karena ingin memberi kejutan," suara Rahma memecah kesunyian, lembut seperti semilir angin sore. "Alhamdulillah, Pak Burhan dapat tawaran mengelola bengkel di daerah Ujung Berung. Jadi, kami memutuskan untuk pindah ke Bandung. Kami sudah ambil kontrak rumah kecil di sana."

Rinda tertegun. Cangkir teh di tangannya bergeming. Kabar itu seperti sebuah melodi yang tiba-tiba berubah kunci.

"Pindah ke Bandung, Bu?" tanya Rinda pelan.

"Iya, Rin," Pak Burhan menyambung, suaranya bariton dan menenangkan. "Ibu selalu mencemaskanmu. Katanya, kalau kita satu kota, setidaknya Ibu bisa sering menjengukmu. Atau kalau kamu mau, Rin... rumah itu punya satu kamar kosong yang cukup luas. Ibu sangat ingin kamu tinggal bersama kami lagi. Kamu tidak perlu capek-capek tinggal di mess atau kerja terlalu berat. Biar Bapak yang tanggung kebutuhanmu."

Pernyataan itu menggantung di udara, sarat dengan niat baik yang murni. Bu Asti dan Pak Bud yang duduk di hadapan mereka tersenyum haru. Bagi mereka, ini adalah akhir yang indah bagi seorang gadis perantau yang rajin. Namun, di dalam relung hati Rinda, ada sebuah tembok pertahanan yang justru semakin mengeras.

Rinda menatap ibunya, lalu beralih ke Pak Burhan. Ia melihat ketulusan di sana, sebuah tawaran untuk "pulang" yang mungkin diimpikan oleh setiap anak yang terluka. Namun, bagi Rinda, kebebasan yang baru saja ia cicipi di Dapur Asti terlalu berharga untuk ditukarkan, bahkan dengan kenyamanan sebuah keluarga baru.

"Ibu... Bapak... terima kasih banyak atas tawarannya," Rinda memulai, memilih setiap kata dengan ketelitian seorang penenun. "Rinda senang sekali Ibu dan Bapak ada di sini. Tapi, Rinda merasa lebih nyaman tetap di sini. Bu Asti dan Pak Bud sudah seperti orang tua sendiri bagi Rinda. Di sini, Rinda bisa belajar banyak hal tentang dapur, dan yang terpenting... Rinda merasa bisa lebih leluasa mengelola waktu untuk kuliah dan menulis."

Ada jeda sejenak. Rinda tidak mengatakan bahwa ia takut kehadirannya akan mengganggu dinamika pengantin baru ibunya. Ia tidak mengatakan bahwa ia trauma akan bayang-bayang seorang "ayah" di dalam rumah, sekecil apa pun kemungkinan Pak Burhan akan berbuat jahat. Rinda hanya ingin menjaga kemandiriannya yang masih sangat rapuh.

Rahma menatap putrinya dalam-dalam. Sebagai wanita yang melahirkannya, ia menangkap kilat keteguhan yang tak tergoyahkan di mata Rinda. "Ibu paham, Teh. Kamu memang dari dulu punya pendirian yang keras kepala. Ibu tidak akan memaksa. Bagi Ibu, melihatmu sehat dan punya semangat kuliah lagi saja sudah cukup."


Percakapan beralih menjadi lebih santai. Bu Asti, dengan keramahtamahannya yang khas, mencoba mencairkan suasana. "Rinda ini luar biasa, Bu Rahma. Saya jarang melihat anak muda zaman sekarang yang bangun jam dua pagi tanpa pernah mengeluh. Dia sangat teratur, seolah-olah disiplin itu sudah menyatu dengan tulang belakangnya."

Pak Bud mengangguk setuju. "Betul. Kami sempat bingung, kok bisa anak seumuran dia punya ketangkasan dapur seperti koki yang sudah jam terbang tinggi. Padahal setahu kami, Rinda ini sebelumnya kuliah di jurusan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan boga."

Lihat selengkapnya