Pikiran gadis itu tak kunjung henti memikirkan perkataan ibunya Will padanya. Ibu ngapain William, sih sampai maminya semarah itu sama aku? batinnya. Dalam benaknya yang seharusnya merasa menderita itu, ya... dirinya. Terbaring koma selama satu bulan itu bukan hal yang menyenangkan. Berjuang untuk tetap hidup itu bukan perkara mudah. Apalagi setelah sadar, seluruh tubuhnya merasakan sakit yang teramat sangat. Sementara laki-laki itu tak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya. Padahal, Lily seperti itu juga karena ulahnya. Karena laki-laki itu meninggalkannya.
“Ly…” Bagas yang sejak tadi mengejar dengan motor maticnya, pada akhirnya mampu menahan Lily.
“Ayolah, Ly. Kamu lagi nggak baik-baik saja. Biar aku antar pulang, ya.” Dan aku melakukannya demi diriku, agar bisa terus bersamamu apapun yang terjadi.
Lily menyerah. Dia lantas menaiki motor Bagas dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Sepanjang perjalanan keduanya terdiam. Hanya suara bising kendaraan yang menjadi backsound perjalanan mereka. Ingin sekali Bagas menanyakan semua tanda tanya dihatinya. Tapi, saat kaca spion memantulkan wajah Lily yang terlihat hampir menangis, laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Sayangnya dia tidak tahan.
Bagas menghentikan laju motornya.
Lily yang terkejut lantas mengerutkan keningnya bersiap untuk mengeluarkan seluruh emosinya.
“Kenapa berhenti?”
Bagas tak lagi mampu menahan rasa penasarannya. “Jadi kalian udah lama kenal?”
Lily terdiam.
“Sejak kapan?”
Lagi-lagi Lily tak menjawab.
“Kalian ada masalah apa?”
Wajahnya mulai memerah, emosinya benar-benar sudah siap untuk ia ledakkan. “Bukan urusanmu! Aku mau pulang, Gas! Please antar aku pulang.” Tiba-tiba saja air matanya keluar dengan derasnya. Lily yang dikenal kuat, akhirnya pertahanannya runtuh. Dia menangis, terisak. Dihadapan laki-laki yang menyukainya.
Tanpa pikir panjang, Bagas merangkul tubuhnya dan memeluknya erat. Berkali-kali Bagas menepuk bahunya lembut, berusaha menenangkan hatinya yang sedang kalut. Dan beruntungnya Bagas memeluk Lily tanpa perlawanan sama sekali. Gadis itu membiarkan Bagas memeluknya hingga membuatnya tenang.
*
Sesampainya di rumah, gadis itu langsung turun dari maticnya Bagas dan bergegas menuju ke dalam tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Bagas yang sudah mengantarnya. Lily kemudian membuka pintu dengan kasar lalu mencari Ibunya. “Ibu! Bu... Ibu!” pekiknya.
Seorang wanita keluar dari kamarnya dengan wajah sedikit khawatir saat mendengar suara Lily yang memanggilnya keras. “Ada apa, Ly?”
“Apa yang selama ini ibu lakukan sama William dan keluarganya?”
“Melakukan apa? Siapa? William siapa?”
“Tujuh tahun lalu, setelah aku sadar dari koma, apa yang Ibu lakukan pada William? Tolong jelasin semuanya sama aku, Bu!”
Wanita itu terkejut saat menyadari nama lelaki yang disebut Lily sama dengan nama yang selama ini berusaha dia hindari.
“Jelasin sama Lily, Bu.”
“Dimana kamu bertemu sama mereka?”
“Ibu enggak perlu tau! Aku cuma mau ibu jelasin apa yang ibu lakukan sama Will selama aku koma, Bu!”
“Maaf...”
Semua mata tertuju pada kehadiran Bagas yang membuat suasana sedikit melunak. Ibu Lily pun terlihat sangat lega saat Bagas menghampiri mereka berdua. Namun tidak bagi Lily, kehadiran Bagas menurutnya sangat mengganggu. Hingga memilih untuk menghentikan introgasi itu sementara dan pergi menuju kamar dengan pintu yang dibanting keras.
“Maaf kalau kehadiran saya menganggu...”
“Enggak apa-apa. Ibu malah lega kamu disini,” ucapnya kemudian mengajak Bagas duduk. “Ibu mau tanya, apa hari ini Lily ketemu sama anak laki-laki?”
“Maksud ibu, William? Kami memang baru saja menghadiri acara pembukaan toko roti milik keluarganya.”
Ibunya Lily semakin terkejut saat mendengar penjelasan Bagas. Ia mulai merasa khawatir dengan kehadiran laki-laki itu. “Kamu kenal juga?”
Bagas kemudian tersenyum, berusaha mencairkan suasana yang sedikit menegang. “Kami teman satu kelas di sekolah, Bu.” Bagas hanya bisa tersenyum getir dan semakin menyadari kalau ada yang tak beres dengan mereka.
*
Sementara itu di café.
“Mami enggak seharusnya berbicara kasar seperti itu sama Lily!” William terus mengejar mami hingga ke back area. Ia tak lagi peduli dengan pandangan karyawan lain yang memandangnya heran. “Mami!!!”
“Kamu berani membentak mami cuma karena gadis itu?”
Will memejamkan matanya, berusaha menyadarkan dirinya yang mulai keterlaluan. “Sorry,” ia menundukkan kepalanya. “Please, just let everything go! Forget the past, mom. Hidupku sudah normal sekarang.” Lelaki itu tak lagi mengejar maminya. William pergi dari café berusaha menenangkan diri.
Semua karyawan menatap mami khawatir. Beberapa dari mereka berusaha untuk mendekat dan menenangkan mami. Air mata tak mampu ia bendung lagi. Mereka mengalir bebas di kedua pipinya.
“Will…” tanya Layla yang langsung menghampiri Will saat lelaki itu kembali ke tempatnya semula. Wajahnya terlihat begitu khawatir dan gelisah.
Sementara laki-laki itu melewatinya dan pergi meninggalkan café yang sedang ramai.
“Lho, Will!” Fanny yang berpapasan dengan kondisi William yang berantakan membuatnya khawatir, hingga dia mengikutinya pergi.
Sementara Layla terjebak dengan beberapa customer yang meminta bantuannya.
Fanny masih mengikuti langkah William. Dia yang tak mengerti apa-apa hanya berusaha menjaga temannya yang terlihat kalut agar tidak kenapa-napa.
“Will, lo mau kemana? William!”