Orang bilang, masa lalu tak perlu terus diingat. Cukup disimpan sebagai kenangan karena pada akhirnya, hidup berjalan ke depan, bukan ke belakang. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Lily. Masa lalunya bukan sekadar kenangan. Ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, terlalu banyak luka yang belum menemukan penutupnya.
Pagi itu, Lily kembali bertemu William dan teman-temannya di sekolah. Suasana terasa berbeda. Canggung. Setidaknya bagi sebagian orang. Bagas, seperti biasa, tampak tidak terpengaruh. Sejak kemarin laki-laki itu semakin gencar mendekatinya. Sementara Layla terlihat beberapa kali mencuri pandang ke arah Lily seolah sedang menyimpan sesuatu yang ingin diucapkan.
"Lay, lo bisa duduk di tempat lain nggak?" bisik Bagas saat gadis itu hendak menempati kursinya. "Ayolah, sehari aja."
Layla memutar bola matanya. "Ly, aku duduk sama William, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Layla berpindah tempat.
Bagas langsung mengambil kursi di samping Lily.
"Hey, udah baikan?" tanyanya hati-hati.
"Hm.” Lily hanya bergumam pelan.
Pikirannya sedang terlalu penuh untuk memedulikan siapa yang duduk di sampingnya. Semalaman ia nyaris tidak bisa tidur. Setelah Fanny pulang, ibunya akhirnya masuk ke kamar dan menceritakan banyak hal yang selama ini disembunyikan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, wanita itu meminta maaf sambil menangis di hadapan Lily. Ibunya mengaku bahwa semua yang dilakukannya saat itu semata-mata karena ingin melindunginya.
"Ibu cuma takut kehilangan kamu, Ly."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya hingga pagi ini.
Sejak Papa meninggal, ibunya hanya memiliki dirinya. Kehilangan suami sudah hampir menghancurkan hidup wanita itu. Saat Lily mengalami kecelakaan dan terbaring koma selama satu bulan, dunia ibunya seakan runtuh untuk kedua kalinya.
"Ibu nggak kuat kalau harus kehilangan kamu juga."
Lily masih mengingat bagaimana tangan ibunya bergetar saat mengucapkan kalimat tersebut. Untuk pertama kalinya, ia melihat luka yang selama ini dipendam oleh ibunya sendiri. Mungkin selama ini ia terlalu sibuk memikirkan rasa sakitnya hingga lupa bahwa ada orang lain yang juga terluka karena kejadian itu. Meski begitu, penjelasan sang ibu hanya berkkutat pada bagaimana dia menjalani hari yang berat setelah Lily sadar dari koma. Hal itu jelas belum mampu menghilangkan seluruh pertanyaan yang memenuhi kepala Lily selama ini tentang William, tentang alasan kepergiannya, tentang kemarahan maminya kemarin dan tentang perasaan aneh yang kembali muncul setiap kali nama laki-laki itu melintas dalam pikirannya. Semua itu bercampur menjadi satu, membuat kepalanya terasa semakin penuh.
Melihat dirinya tidak diusir, Bagas diam-diam tersenyum puas. Setidaknya itu sudah merupakan kemajuan. Namun sebelum ia sempat mengajak Lily berbicara lagi, seorang guru masuk ke kelas sambil membawa map cokelat yang langsung membuat para siswa waspada.
"Semua buku dimasukkan ke dalam tas! Keluarkan alat tulis. Ulangan Ekonomi dimulai sekarang."
"Oh, Tuhan..." gumam Lily pelan.
"Baguslah lo duduk di sini." Lily menyenggol lengan Bagas begitu bel istirahat berbunyi.
Bagas mengangkat alis. "Kenapa?"
"Karena gue bisa nyontek sedikit."
Bagas terkekeh. "Iya, iya. Aku memang terlahir untuk dimanfaatkan."
Untuk pertama kalinya hari itu, Lily tersenyum meski masih terlihat samar namun bagi Bagas, hal itu salah satu kemajuan yang dia miliki untuk Lily.
*
Jam menunjukkan waktu istirahat tiba. Tanpa Lily sadari sebelumnya, tiba-tiba saja William dan Layla menghampirinya. Senyum Lily langsung menghilang, sementara William tampak gugup. Tatapannya berulang kali jatuh ke wajah Lily sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara.
"Bisa ngomong sebentar, Ly?"
"Di sini aja."
"Ly..."
"Kalau ada yang mau diomongin, ngomong di sini."
"Iya, ngomong di sini aja," sahut Bagas cepat. "Kita juga teman lo, Will." William menghela napas.
Lily langsung berdiri, dia harus tau lebih dulu dari yang lain. "Keluar."
"Hah?" Bagas kecewa.
"Gue nggak mau bahas ini di depan orang banyak."
Tanpa menunggu jawaban, Lily berjalan lebih dulu menuju koridor belakang kelas. William buru-buru mengikutinya.