Kembali, Pulang

Regina Mega P
Chapter #25

Hangat

Sejak pertemuan pertamanya dengan Adam di rumah beberapa waktu lalu, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam kehidupan Lily. Tidak terlalu besar. Namun cukup untuk membuat rumah yang biasanya sunyi terasa berbeda. Kini, sesekali terdengar suara tawa Ibunya dari ruang tengah. Kadang diselingi suara Adam yang bercerita tentang masa kuliah mereka dulu, kadang hanya obrolan ringan yang sebenarnya biasa saja tetapi tetap mampu membuat Ibunya tersenyum lepas.

Dan Lily belum terbiasa melihat itu.

Selama bertahun-tahun, rumah mereka hanya berisi dirinya dan Ibu. Tidak pernah ada laki-laki lain yang duduk santai di sofa ruang tamu, membantu mengganti lampu yang rusak, atau datang membawa makanan sambil mengetuk pintu rumah dengan wajah penuh senyum. Sekarang semuanya perlahan berubah. Lily belum tahu harus merasa senang atau takut. Dia memang tidak membenci Adam. Pria itu terlalu baik untuk dibenci. Terlalu sopan. Terlalu sabar. Bahkan selalu berbicara hati-hati padanya, seolah takut membuatnya tidak nyaman. Justru karena itulah Lily semakin bingung. Karena semakin baik Adam padanya, semakin besar pula rasa bersalah yang muncul di hatinya.

Beberapa kali Lily tanpa sadar mulai membandingkan pria itu dengan sosok Ayah yang hanya beberapa tahun bersamanya. Dan setiap kali menyadarinya, Lily selalu merasa seperti anak durhaka. Akhirnya, seperti biasa, Lily lebih memilih menghindar. Bukan karena tidak suka. Ia hanya belum siap jika hidupnya benar-benar berubah.

“Ly, ada Om Adam!”

Ibu selalu memanggil Lily setiap kali Adam datang, seolah kehadirannya sangat ditunggu oleh Lily. Lily keluar dari kamar sambil membawa cucian. Berusaha menunjukkan bahwa dirinya keluar bukan karena kehadiran Adam dirumahnya.

“Hai, Ly.”

Lily memaksakan senyum kecil. “Hai, Om.” Lalu buru-buru berjalan menuju laundry room. Ia hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Dari ruang tengah, Adam diam-diam memperhatikan punggung Lily yang menghilang begitu cepat.

“Masih canggung, ya?” tanya Ibu Lily pelan.

Adam tersenyum kecil lalu mengangguk. “Sedikit.”

“Maaf kalau Lily kadang terlihat dingin. Dia memang susah dekat sama orang baru.”

“It’s okay.” Nada suara Adam tetap tenang. “Aku bisa nunggu.”

Kalimat sederhana itu membuat Ibu Lily tersenyum tipis. Sementara itu Lily diam-diam mendengar semuanya. Tanpa disadari senyum tipisnya mengembang meski hanya sepersekian detik.

*

Hari-hari berlalu Adam semakin sering datang. Masih dengan pizza favorit Lily ditangannya, membantu Ibunya memasak di dapur, memperbaiki barang-barang rumah yang rusak tanpa diminta. Dan setiap kali itu terjadi Lily selalu punya alasan untuk menghilang.

“Aku belajar dulu.”

“Aku ngantuk.”

“Aku ada tugas.”

Padahal sebagian besar hanya alasan agar ia tidak perlu terlalu lama berada di dekat Adam. Namun anehnya, pria itu tidak pernah terlihat tersinggung. Ia tidak pernah memaksa Lily ikut mengobrol. Tidak pernah meminta dipanggil seperti keluarga sendiri. Bahkan tidak pernah mencoba terlalu akrab. Seolah ia benar-benar memahami kalau hati Lily membutuhkan waktu lebih lama dibanding yang lain. Dan justru sikap itulah yang perlahan membuat pertahanan Lily mulai goyah.

Malamnya, Lily keluar dari kamar saat aroma makanan tercium sampai ke lorong rumah. Awalnya ia berniat mengambil minum lalu kembali mengurung diri. Namun langkahnya terhenti saat melihat meja makan yang biasanya kosong kini dipenuhi beberapa piring dan mangkuk.

"Masak apa, Bu?" tanyanya sambil menarik kursi.

"Bukan Ibu." Ibunya menunjuk seseorang yang sedang sibuk mengaduk sup di dapur.

Lily spontan menoleh.

Pria itu mengenakan celemek bermotif kotak-kotak yang entah kenapa terlihat tidak cocok dengan penampilannya yang selalu rapi.

Adam tersenyum saat menyadari dirinya diperhatikan.

Lihat selengkapnya