Kembali, Pulang

Regina Mega P
Chapter #26

Jauh

Pagi itu, Lily melihat Layla turun dari motor William tepat di depan gerbang sekolah. Layla tampak tersenyum cerah. Entah apa yang dikatakan William, tetapi beberapa detik kemudian gadis itu memukul lengan laki-laki itu pelan sambil tertawa. Pemandangan yang sangat wajar. Pemandangan yang memang seharusnya terjadi. Bukankah mereka berdua sedang berpacaran? Lily mengencangkan genggaman pada tali tasnya. Tidak ada yang salah. Layla adalah sahabatnya. William juga sahabatnya. Mereka bahagia. Ia seharusnya ikut bahagia. Lagipula, sejak awal bukankah ia sendiri yang selalu mendorong Layla agar berani mengungkapkan perasaannya? Jadi kenapa dadanya masih terasa sesak? Lily buru-buru menggeleng. Tidak. Ia tidak boleh berpikir macam-macam. Hubungan mereka memang sudah seharusnya seperti itu. William berhak bahagia. Layla juga.

Sementara dirinya. Ya, dirinya akan baik-baik saja. 

"Kalau ngelihatin terus, nanti bolong."

Lily tersentak. Seseorang tiba-tiba muncul di sampingnya sambil menyerahkan sekotak susu cokelat dingin.

Bagas.

Laki-laki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu ikut memandang ke arah gerbang sekolah.

"Ngeliatin siapa?"

"Nggak ngeliatin siapa-siapa."

“Terus ngapain berdiri kayak patung di sini?"

Lily mendengus kesal.

Bagas hanya tertawa kecil lalu menyodorkan kembali susu yang sejak tadi dipegangnya.

"Nih!"

"Apa?"

"Sarapan."

"Gue nggak minta."

"Makanya aku kasih."

Lily memutar bola matanya malas. Tetapi tetap mengambil susu itu. 

Sementara Bagas tersenyum puas. "Nah, gitu dong."

Mereka mulai berjalan berdampingan menuju kelas.

"Gas."

"Hm?"

"Menurut lo, gue aneh nggak?"

Bagas menoleh sekilas.

Pertanyaan itu terdengar lebih serius dari biasanya.

"Why?"

Lily terdiam beberapa saat.

"Lo pernah nggak sih, ngerasa harus ikhlas sama sesuatu, tapi ternyata pas lihat langsung tetap sakit?"

Langkah Bagas melambat. Dia jelas tidak perlu menjadi orang pintar untuk tahu siapa yang sedang dibicarakan Lily. Namun laki-laki itu memilih menatap lurus ke depan.

"Menurutku itu normal."

"Normal?”

“Hmm.” Bagas menghentikan langkahnya saat melihat gadis itu berdiri dihadapannya. “Lagian, kamu manusia, Ly. Bukan robot."

Lily tertawa kecil.

“Jawaban apaan itu."

"Jawaban jujur."

Lalu, tanpa menoleh padanya, Bagas melanjutkan, “kalau kamu terus berdiri di tempat yang sama, kamu nggak bakal bisa lihat pemandangan yang lain."

Lily mengernyit.

"Maksudnya?"

Bagas menunjuk ke depan. “Tuh!”

Di ujung koridor terlihat Fanny sedang berlari sambil membawa setumpuk buku, lalu hampir menabrak tiang. 

Lily spontan tertawa.

“Ya ampun."

"Nah, ketawa kan." Bagas tersenyum puas.

Lihat selengkapnya