Kembali, Pulang

Regina Mega P
Chapter #27

Perhatian

Pintu UKS terbuka cukup keras saat Bagas mendorongnya dengan bahu.

"Bu! Tolong, Bu!" serunya panik.

Petugas UKS yang sedang merapikan obat-obatan langsung berdiri dari kursinya.

"Astaga, kenapa ini?"

"Lily sakit."

"Tidurkan dulu di sana."

Bagas segera membawa Lily ke ranjang terdekat. Dengan hati-hati ia menurunkan tubuh gadis itu, seolah takut sedikit saja bergerak terlalu kasar akan membuatnya semakin kesakitan.

Lily memejamkan mata begitu punggungnya menyentuh kasur. Perutnya masih terasa melilit. Bahkan duduk pun rasanya tidak nyaman.

"Sejak kapan sakit?" tanya petugas UKS sambil memeriksa kondisi Lily.

"Tadi pas olahraga," jawab Bagas.

"Bukan tadi," gumam Lily pelan.

"Hah?"

"Pas pelajaran pertama juga udah sakit. Tapi masih hilang timbul dan enggak separah ini."

Bagas langsung menoleh.

"Kenapa nggak bilang?"

Lily membuka satu matanya.

"Malu."

"Malu? Masa sakit malu!"

"Kalau nggak ngerti mending diam!" ujar Lily mulai kesal dengan ulah Bagas. Bahkan saat sedang sakit pun anak itu masih menyebalkan.

Sementara Bagas mulai menahan diri saat melihat wajah Lily berubah menjadi lebih ganas.

Tak lama kemudian Fanny datang dengan segelas teh manis hangat ditangannya.

"Gimana? Gimana?”

“Tekanan darahnya rendah. Sementara kamu istirahat dulu disini, ya Ly.”

“Hmm, maunya.” Fanny mengejek, sementara Lily melempar tatapan datar.

"Fan."

Fanny terkekeh lalu meminta maaf.

Setelah mengukur tekanan darah Lily, petugas UKS lantas mencatat sesuatu di buku kecilnya. 

"Sudah sarapan, Nak?”

Lily terdiam.

Bagas langsung menatapnya curiga. “Ly.”

"Kalau makan sepotong pizza bisa dianggap sarapan, berarti udah, Bu,” jawab Lily meringis.

"Sarapan tuh nasi, Ly!” Bagas menimpali.

“Tipikal orang Indonesia banget ya lo, Gas!” Fanny.

Petugas UKS sampai tersenyum melihat tingkah mereka. "Selain sakit perut, ada keluhan lain?"

Lily menggigit bibir bawahnya. Pertanyaan itu membuatnya sedikit kikuk. Untungnya Fanny yang berdiri di samping ranjang langsung menangkap ekspresi sahabatnya.

"Dapet?"

Lily mengangguk pelan.

Sementara Fanny langsung paham dengan jawaban Lily.

“Dapet apa?" tanya Bagas.

Fanny menghela napas. "Cowok tuh, ya!"

"Kenapa?"

"Udahlah, nggak akan ngerti!" Fanny mulai gemas dengan tingkah Bagas.

"Apaan coba."

"Pokoknya rahasia."

Bagas menoleh ke Lily. Lily buru-buru memalingkan wajah.

"Jangan lihat gue."

"Kenapa malah gue yang nggak boleh tahu?"

"Karena lo cowok! Nggak akan paham." Fanny.

"Itu diskriminasi."

Fanny terkekeh.

Petugas UKS yang mendengarkan perdebatan mereka ikut tersenyum geli. "Sudah, sudah. Yang penting istirahat dulu."

“Bu tolong, Bu suruh mereka diam. Saya mau istirahat.”

Petugas UKS lantas menyuruh keduanya diam selama masih ingin menemani Lily di UKS. Mereka pun menurutinya dan menolak kembali ke kelas.


Tiga puluh menit kemudian kondisi Lily mulai sedikit membaik, namun dia masih tertidur. Fanny duduk di samping ranjang sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Bagas mondar-mandir seperti satpam kehilangan pos ronda.

"Gas, duduk!”

Lihat selengkapnya