Pagi itu Lily sedikit terlambat berangkat sekolah. Baru saja dirinya membuka pagar seseorang datang tepat waktu dihadapannya.
"Bareng, yuk!”
Lily terkejut. Kebetulan sekali. Daripada dihukum karena terlambat, lebih baik menerima tawarannya.
"Yuk, gas!”
“Gas!!!”
Sepanjang perjalanan, Bagas tak berhenti mengoceh. Membahas guru matematika, tugas bahkan membahas kucing liar yang tiba-tiba mengejarnya kemarin sore. Lily yang biasanya lebih sering diam beberapa kali terlihat tertawa. Bahkan sesekali membalas lelucon Bagas. Hal kecil yang dulu jarang sekali terjadi.
"Eh, nanti pulang mau beli es krim nggak?"
Lily tidak menjawab.
"Aku traktir. Gratis."
Lily mulai tergoda.
"Bolehlah.”
“Giliran gratis bolehlah.”
“Ya, udah nggak jadi.”
“Eh, iya maaf. Jadi, yah!”
“Hm.”
Saat motor berhenti di depan gerbang sekolah, beberapa siswa menoleh. Bukan karena Bagas. Melainkan karena Lily yang turun dari motor sambil tertawa. Pemandangan yang cukup langka. Di kejauhan, William yang baru turun dari motornya ikut melihat. Tatapannya mengikuti Lily tanpa sadar.
Lalu berhenti pada Bagas yang sedang merapikan poni gadis itu yang berantakan karena angin. Hanya sebentar. Sangat sebentar. Namun cukup membuat sesuatu terasa mengganjal di dadanya.
"Will!"
William menoleh.
Layla berlari kecil menghampirinya. Wajahnya terlihat cerah seperti biasa. Namun senyumnya sedikit memudar saat menyadari arah pandangan William sebelumnya.
Lily.
Lagi.
Beberapa hari terakhir ia mulai menyadarinya. William memang tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Tidak pernah mengabaikannya. Tidak pernah bersikap dingin. Tetapi ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Dan setiap kali ia merasa perubahan itu muncul, Lily selalu berada di dekatnya
"Ayo masuk."
Layla langsung menggandeng lengan William. Sedikit lebih erat dari biasanya. William tampak terkejut.
"Kenapa, Lay?"
"Nggak kenapa-kenapa."
Layla tersenyum. Namun jemarinya justru semakin mengerat.
Di kejauhan, Lily melihat pemandangan itu dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan apa-apa. Atau setidaknya ia berusaha meyakinkan dirinya demikian. Bukankah memang seharusnya begitu? Layla pacar William. William pacar Layla. Sesederhana itu. Sementara itu, seseorang memperhatikan semuanya dari bangku taman dekat lapangan.
Fanny.
Matanya bergantian menatap keempat sahabatnya.
Bagas dan Lily.
William dan Layla.
Entah kenapa hari ini ia merasa seperti orang yang berdiri di tengah persimpangan. Masing-masing mulai berjalan ke arah mereka sendiri. Layla sibuk dengan hubungannya. William semakin sulit ditebak. Bagas makin terang-terangan memberi perhatian pada Lily. Dan Lily perlahan membuka dunianya untuk orang-orang baru. Sedangkan dirinya? Masih berdiri di tempat yang sama.
"Fan!"
Ia menoleh.
Lily melambaikan tangan dari kejauhan. “Buruan masuk!"
Bagas ikut melambai.
Layla juga.
Bahkan William menoleh ke arahnya.
Fanny tersenyum. Lalu berlari kecil menghampiri mereka. Namun untuk pertama kalinya, muncul ketakutan kecil di dalam hatinya. Ketakutan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bagaimana kalau suatu hari nanti mereka semua benar-benar berubah? Dan bagaimana kalau pada akhirnya ia menjadi satu-satunya orang yang tertinggal? Memikirkannya saja sudah membuat gadis itu merasa gelisah.
*
Selama di kantin Fanny menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Dia hanya sesekali menimpali lelucon Bagas, lalu berbasa-basi dengan William. Fanny juga bertanya pada Layla mengenai hubungannya dengan William, namun gadis itu hanya tersenyum malu-malu lalu menggandeng William dihadapannya. Membiarkan gadis itu menebak hubungan apa yang tengah terjalin diantara mereka.
Sementara Lily sudah mulai tak peduli dengan apapun yang berhubungan dengan mereka. Bagas membuatnya sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan absurd yang dia lontarkan untuk Lily.
Jam pelajaran terakhir baru saja berakhir ketika seorang guru geografi menghentikan langkah Lily dan Fanny yang hendak keluar kelas.
"Lily, Fanny. Tolong bantu Ibu sebentar ke laboratorium."
Fanny yang sejak tadi sudah memasukkan buku ke dalam tas langsung mengangguk.
"Siap, Bu."
"Ada beberapa buku modul yang harus dirapikan. Minggu depan mau dipakai untuk kegiatan sekolah."
Lily melirik jam dinding.
"Sebentar aja kan, Bu?"
Bu Ratna tertawa.
"Sebentar."
Padahal pengalaman mengajarkan bahwa kata sebentar dari seorang guru sering kali berarti setengah jam lebih.
Laboratorium berada di gedung belakang sekolah relatif sepi siang itu. Sebagian besar siswa sudah pulang. Hanya sesekali terdengar suara langkah kaki dari koridor.
Fanny dan Lily sibuk memindahkan tumpukan modul ke lemari penyimpanan. Sesekali mereka mengelap debu yang menempel di rak-rak tua.
"Sebentar apanya. Setumpukan gini.”
Lily terkekeh pelan. "Kan, mending tolak aja tadi.”
"Emang berani? Lo aja tadi iya-iya doang!”
Lily hanya bisa mendengus, lantas kembali bekerja dalam diam. Namun kali ini Fanny terlihat lebih banyak melamun. Beberapa kali ia menghela napas tanpa sadar dan itu tidak luput dari perhatian Lily.
"Fan."
"Hm?"
"Lo kenapa?"