UKS sore itu terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Lily duduk di salah satu ranjang pasien sambil memegangi pelipisnya yang sudah dibersihkan oleh petugas UKS. Benturannya tidak terlalu serius, hanya meninggalkan memar kemerahan. Namun perhatian Lily sama sekali tidak tertuju pada dirinya sendiri. Sejak tadi matanya tak lepas dari ranjang di seberang. William masih terbaring di sana. Wajahnya pucat. Napasnya sedikit lebih tenang dibanding beberapa menit lalu, tetapi kedua matanya masih terpejam rapat. Petugas UKS sedang memeriksa tekanan darahnya sambil sesekali mencatat sesuatu di lembar pemeriksaan.
Di sudut ruangan, Bu Ratna dan wali kelas mereka tampak mondar-mandir dengan wajah tegang. Sesekali keduanya saling berbisik. Sesekali pula menelpon seseorang. Namun tidak satu pun dari mereka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Fan..."
Fanny yang duduk di samping Lily langsung menoleh.
"Menurut lo kenapa mereka kayak gitu?"
Fanny menggeleng.
"Nggak tahu."
Tatapannya ikut berpindah ke arah William. Melihatnya terbaring lemah di brankar membuatnya iba. "Tadi gue kira yang bakal pingsan tuh lo."
Lily menggeleng. “Untungnya pas jatoh nggak sampai kebentur lantai. Tapi tangan gue agak pegal karena nahan.”
“Gue kan udah bilang jangan ngapa-ngapain. Ngeyel banget!” ujarnya gemas sambil memukul paha Lily pelan.
“Ya, maaf.” Pikiran Lily menerawang saat dia menatap William. Memikirkan reaksi William saat melihat dirinya jatuh. Tatapan panik itu. Suara gemetar itu. Permintaan maaf yang terus diulang-ulang. Rasanya seperti melihat orang yang sama sekali berbeda. "Tapi dia beneran bikin gue takut." Lily menunduk.
Pintu UKS terbuka. Langkah kaki tergesa-gesa langsung terdengar. "William!"
Layla masuk lebih dulu. Disusul Bagas di belakangnya. Mereka memang belum pulang saat mendengar kabar dari teman-teman yang lain. Layla langsung membeku ketika melihat William terbaring di ranjang. “Dia kenapa?"
Tidak ada yang langsung menjawab. Membuat kepanikannya semakin bertambah.
"Dia kenapa?" Layla berjalan mendekati ranjang William. Tangannya gemetar saat menyentuh ujung selimut. “Tadi baik-baik aja..." Suara gadis itu mulai mengecil. Matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Sementara itu Bagas menghampiri Lily dan Fanny.
"Kalian nggak apa-apa?"
Lily mengangguk pelan.
"Katanya Lily yang jatuh?"
"Gue nggak kenapa-kenapa."