Malam telah turun ketika lampu-lampu rumah sakit mulai mendominasi pemandangan di luar jendela. Aroma obat dan cairan antiseptik yang khas memenuhi udara, bercampur dengan suara langkah kaki perawat yang sesekali melintas di koridor. Di salah satu ruang rawat inap lantai tiga, William masih terbaring dengan selang infus menempel di punggung tangannya. Monitor di samping ranjang menunjukkan kondisi yang perlahan membaik.
Namun ketenangan itu tidak benar-benar hadir di dalam ruangan. Di dekat jendela, kedua orang tuanya berdiri saling berhadapan. Berbicara pelan. Terlalu pelan untuk disebut bertengkar. Tapi cukup tajam untuk menunjukkan bahwa mereka sedang menahan emosi masing-masing.
"Aku sudah bilang dari awal." Suara Mami terdengar bergetar.
Ayah menghela napas panjang. "Jangan mulai lagi."
"Gimana aku nggak mulai?" balasnya cepat. "Lihat keadaan William sekarang."
Ayah menoleh ke arah putranya yang masih belum sadar. "Kondisinya sudah stabil."
"Bukan itu maksudku." Wanita itu memejamkan mata sesaat. Seolah berusaha mengendalikan dirinya. Namun ketika kembali membuka mata, rasa cemas yang selama ini disimpannya tetap terlihat jelas. "Kita sudah berusaha bertahun-tahun menjauhkan mereka."
Ayah tidak segera menjawab.
"Kita nggak cuma pindah kota, tapi pindah Negara! Kita ganti lingkungan. Kita lakukan semuanya. Tapi sekarang?" Tatapannya kembali jatuh pada William. "Dia kembali seperti ini."
Ayah mengusap wajahnya lelah. "Will bukan anak kecil lagi."
"Tapi dia belum sembuh." Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Mami menatap putranya lama. Matanya mulai memerah. "Tujuh tahun, Yah." Suaranya mengecil. "Tujuh tahun aku melihat dia berusaha bangkit. Tujuh tahun aku melihat dia mencoba hidup normal." Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Lalu sekarang semua itu kembali lagi."
Ayah menunduk.
Tidak ada yang lebih memahami perjuangan William selain mereka berdua. Mereka yang melihat sendiri bagaimana putra mereka berubah setelah hari itu. Bagaimana seorang anak yang dulu ceria tiba-tiba menjadi pendiam. Bagaimana seorang anak sepuluh tahun memikirkan cara untuk mati. Bagaimana malam-malam panjang selalu dipenuhi mimpi buruk. Bagaimana rasa bersalah perlahan menggerogoti dirinya hingga hampir menghancurkan segalanya.
"Kamu juga tahu Will yang memilih sekolah itu,” ujar Ayah.
Mami tertawa pendek. Tawa yang terdengar pahit. Seolah baru menyadari bahwa selama ini dirinya pun tidak sepenuhnya benar.
“Dan kita menyetujuinya saat itu.” Ayah menghela napas berat. “Kamu ingat waktu dia menunjukkan brosur sekolah itu? Dia bilang tertarik karena program akademiknya bagus. Nilainya juga cocok. Semua terlihat masuk akal."
Mami terdiam. Pandangannya jatuh pada William yang masih terbaring di atas ranjang. Wajah putranya tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang beberapa jam lalu mengalami kepanikan hebat. Perlahan senyum miris terbentuk di bibirnya.
"Mungkin itu kesalahan kita."
"Maksudmu?"
"Kita terlalu sibuk menjauhkan Lily darinya sampai lupa satu hal."
Ayah mengangkat kepala. Sementara mata Mami mulai berkaca-kaca.
"Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di pikiran William."
Ruangan kembali sunyi.
"Bisa jadi..." suaranya bergetar, "...dia memang sengaja memilih sekolah itu karena sejak awal tahu Lily ada di sana."
Ayah terdiam. Tidak membantah. Tidak pula membenarkan, karena jauh di dalam hatinya, kemungkinan itu pernah terlintas lebih dari sekali.
Mami menunduk. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.
"Aku sudah berusaha, Yah." Suaranya nyaris menjadi bisikan.
"Aku sudah berusaha menjauhkan dia dari semua yang bisa mengingatkannya pada hari itu."
Ayah menghampiri mami, memeluknya berusaha menenangkannya.
"Tapi kenapa rasanya dia tidak pernah benar-benar meninggalkannya?"
Tidak ada jawaban.
Hanya suara monitor jantung yang berdetak pelan di tengah ruangan. Dan luka tujuh tahun lalu yang ternyata masih hidup di hati mereka masing-masing.
Di atas ranjang, jari William bergerak pelan. Suara kedua orang tuanya terdengar samar. Seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Kesadarannya perlahan kembali. Kelopak matanya bergerak. Namun ia belum membukanya. Tubuhnya masih terasa berat. Dan saat itulah ingatan tadi siang kembali menghantamnya.
Laboratorium.
Tumpukan buku.