Kembali, Pulang

Regina Mega P
Chapter #31

Retak

Beberapa hari setelah kejadian di laboratorium. William masih belum masuk sekolah. Suasana kelompok mereka terasa aneh. Fanny berusaha menjaga keadaan tetap normal. Bagas sibuk mengalihkan perhatian Lily. Namun Layla tidak bisa berhenti memikirkan semuanya. Semakin ia mengingat kejadian di UKS, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Kenapa William panik hanya karena Lily terbentur buku? Kenapa mamanya William menatap Lily seperti itu? Kenapa Lily terlihat begitu terkejut melihat mereka? Dan yang paling mengganggunya, kenapa semua orang seolah tahu sesuatu selain dirinya?

Saat jam istirahat. Layla akhirnya menarik Lily ke koridor belakang. Tempat yang cukup sepi. “Aku mau tanya sesuatu.”

Lily yang sedang membawa buku langsung menghela napas. “Tanya aja.”

“Tentang William.” 

Langkah Lily berhenti. “Apa?”

“Kecelakaan tujuh tahun lalu.”

Lily langsung menoleh. Tatapannya berubah. "Kenapa tiba-tiba bahas itu?"

"Karena semua ini ada hubungannya sama itu, kan?"

Lily mengalihkan pandangan.

"Enggak."

"Bohong."

"Layla."

"Aku serius." Layla maju selangkah.

"Lo nggak merasa semua ini aneh?"

"Lay."

"Mamanya William lihat lo kayak kenal."

Lily diam.

"William pingsan karena lo. Dan sekarang semua orang bertingkah aneh." Suara Layla mulai meninggi. "Kalau memang ada sesuatu kenapa lo nggak cerita?"

Lily tertawa pendek. Namun tanpa humor. "Gue sudah pernah cerita." Layla mengernyit. "Kapan?"

"Saat kita kumpul berlima. Gue bilang dia adalah orang yang selama ini gue benci. William adalah teman masa kecil yang nyaris bikin gue mati. Terus apa lagi yang mau lo tau?"

Layla terdiam. Ia berusaha mengingat. Dan samar-samar ia memang ingat. Tentang kecelakaan, tentang kehilangan seorang teman masa kecil. Namun saat itu semuanya terdengar seperti cerita biasa. Bukan sesuatu yang penting.

"Aku nggak ingat."

"Nah." Lily tersenyum sinis. "Karena buat lo itu nggak penting, kan!"

Layla mulai kesal. "Jangan belokkan pembicaraan."

"Gue nggak belokkan apa-apa."

"Terus kenapa lo nggak mau jawab?"

"Karena gue juga nggak tahu jawabannya, Lay!" Untuk pertama kalinya suara Lily meninggi.

Layla terdiam. Namun rasa frustrasinya sudah terlalu besar.

"Atau lo sebenarnya tahu?"

Kalimat itu langsung menghantam Lily.

"Lo cuma nggak mau cerita. Lo bilang kita teman, sahabat. Kenapa hal sepenting ini aja lo nggak mau cerita. Lo tau gue suka sama William dan kita hampir jadi pasangan. Gue cuma pengen tau biar gue nggak kelihatan bego diantara kalian berdua!"

Sesuatu di dalam diri Lily akhirnya pecah. Hari-hari terakhir terlalu berat. Pertanyaan itu kembali terngiang dikepalanya. Berulang-ulang. Pertanyaan yang tidak pernah dijawab dan sekarang Layla. Orang yang selama ini dia percaya dan selalu bisa diandalkan dalam hal apapun, sedang mempertanyakaan sesuatu yang membuat Lily sendiri tidak tau jawabannya. "Kenapa sih semua orang selalu mikir gue tahu semuanya?"

Layla terkejut.

"Ly. Maaf, aku…”

"Nggak." Lily memotong. "Mau Ibu, William, mamanya William, sekarang lo." Napasnya memburu. "Kalau memang ada yang disembunyikan, gue juga korban di sini!"

Layla membeku.

Namun Lily belum selesai. "Dan jujur aja, ya…" Suaranya mulai bergetar. "Gue capek!"

Lihat selengkapnya