Suasana di kelas mulai berubah. Bukan hanya antara Lily dan Layla melainkan di antara mereka berlima. Jam istirahat yang biasanya dipenuhi suara tawa kini hanya diisi percakapan seperlunya. Layla tak lagi duduk di samping Lily. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-teman perempuan lain. Sesekali memang masih bergabung, tetapi selalu ada jarak yang sulit dijelaskan.
Lily pun tak pernah berusaha mendekat. Dia memilih diam. Bagas beberapa kali mencoba mencairkan suasana dengan candaan khasnya. Menggoda Lily dengan berbagai trik payahnya. Namun tak ada lagi tawa lepas yang dulu selalu mengiringi. Hanya senyum tipis lalu hening kembali. Melihat Lily yang seperti ini, Bagas lebih suka kalau gadis itu memarahinya setiap kali dia goda. Lily yang seperti ini seperti jasad tanpa jiwa. Kosong, datar dan memprihatinkan.
Sementara itu, Fanny mengamati semuanya tanpa banyak bicara. Semakin hari, suasana itu semakin membuatnya sesak. Saat bel pulang berbunyi, ia sengaja memperlambat langkah hingga hanya Bagas yang masih berada di dekatnya.
"Gue nggak suka."
Bagas menoleh. "Apa?"
"Keadaan kita."
Bagas mengikuti arah pandang Fanny. Lily berjalan lebih dulu menuju gerbang sekolah. Layla memilih keluar dari pintu samping bersama beberapa teman sekelas. Tak ada lagi saling menunggu maupun berjalan berdampingan. Mereka seperti orang asing yang kebetulan pernah berteman.
"Tenang aja. Bakal baik lagi, kok mereka."
Bagas mencoba terdengar optimis.
Fanny menggeleng pelan. "Agak susah, ya. Sekarang agak beda." Ia tersenyum hambar. "Dulu mereka kalau adu pendapat terus bete paling sejam. Sekarang..." Ia menghela napas. "Rasanya mereka bahkan nggak tahu harus mulai ngobrol dari mana."
Bagas ikut terdiam. Untuk pertama kalinya, ia pun merasakan hal yang sama.
Fanny mengepalkan kedua tangannya. "Nggak bisa."
"Apa?"
"Gue nggak bisa diem aja."
Bagas mengernyit. "Maksud lo?"
"Gue bakal nyatuin mereka lagi."
Bagas terkekeh. "Gimana caranya?"
Fanny mengangkat bahu. "Nggak tahu." Ia menghela napas. Tapi pasti ada. Gue Fanny, gue punya banyak cara buat nyatuin mereka.”
Bagas tertawa kecil. "Jadi, kek mana?”
“Nggak tau. Bantu mikir dong!”
“Lah! Kan lo yang katanya punya banyak cara. Malah nanya gue!”
"Yang penting optimis dulu lah. Caranya sambil jalan sambil mikir."
Meski ikut tertawa, Bagas tahu. Usaha Fanny mungkin tidak akan semudah yang dibayangkannya. “Lo tuh menarik, ya.”
“What?”
"Maksud gue..." Ia menggaruk tengkuknya canggung. "...cara mikir lo. Unik."
Fanny memandangnya beberapa saat. Lalu tertawa. "Kirain lo akhirnya sadar juga kalau gue cantik."
Bagas spontan mendengus. "Nggak usah halu."
"Yah..." Fanny pura-pura kecewa. "Padahal dulu gue pernah nembak lo. Tapi ditolak karena Lily. Tapi wajar sih karena dulu gue masih… ya siapapun pasti nggak mau pacaran sama gue. Apalagi anak pintar kayak lo!
Bagas tersenyum kikuk. “Ya, lo tau gue lah.”
Fanny memukul pelan lengan Bagas. "Dasar."
Mereka sama-sama tertawa. Namun tawa itu terasa ringan, tak ada lagi rasa canggung seperti dulu. Perasaan suka yang pernah dimiliki Fanny seolah benar-benar telah menjadi bagian dari masa lalu. Kini ia hanya melihat Bagas sebagai teman yang menyenangkan untuk diajak bercanda dan itu sudah lebih dari cukup.
Fanny kemudian mengepalkan tangan penuh semangat. " Gue punya misi!"
Bagas menoleh. "Misi apalagi?"