Sabtu sore turun dengan tenang. Matahari mulai condong ke barat. Sinar jingganya menembus sela-sela pagar kayu rumah kecil itu, memantulkan bayangan daun yang bergoyang pelan diterpa angin.
Di halaman samping, Lily duduk bersila dilantai bersama Cello yang meringkuk nyaman di pangkuannya. Sesekali ia mengelus pelan bulu halus di kepala hewan itu, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Tatapannya kosong. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding beberapa hari lalu. Ada guratan kecewa yang belum sempat hilang dari matanya.
Di dapur, suara pisau membentur talenan terdengar ritmis dari dapur. Ibunya sedang menyiapkan makan malam. Namun gerakan tangannya tidak secekatan biasanya. Beberapa kali ia hanya berdiri memandangi sayuran yang belum dipotong, seolah lupa apa yang sedang dikerjakannya. Rumah itu dipenuhi keheningan. Bukan keheningan yang nyaman. Melainkan keheningan dua orang yang sama-sama ingin bicara, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Bel rumah berbunyi.
Ibu keluar dari dapur sambil mengusap kedua tangannya dengan celemek. "Mas Adam."
Adam mencium pipi calon istrinya. Melihat celemek yang menempel ditubuhnya dia tersenyum. "Lagi masak?"
"Sedikit lagi selesai."
Adam mengintip isi panci. "Wah, kayaknya kurang."
Ibunya mengernyit. "Kurang apa?"
Adam berpikir sejenak.
"Lapar."
Ibunya terkekeh kecil. "Apa, sih Mas..."
"Beneran." Adam mengambil sendok, mencicipi kuah sebentar, lalu mengangguk mantap. "Masakannya enak. Tapi..." Ia menoleh ke arah halaman, melihat Lily yang masih duduk membelakanginya. "Rumah ini lagi terlalu sepi."
Ibunya mengikuti arah pandang Adam. Senyumnya perlahan memudar. "Aku juga ngerasa begitu."
Adam mengembuskan napas pelan. "Makan di luar, yuk."
"Terus ini gimana? Udah aku masak, loh.”
“Kamu bungkus aja, nanti kita mampir ke kantorku sebentar buat kasih ke anak-anak yang lagi lembur. Jadi nggak mubazir, kan.”
Ibu mengangguk. “Aku siapin dulu, ya.”
Adam kemudian menghampiri Lily yang masih asyik dengan pikirannya. "Lily."
Lily menoleh. "Eh ada, Om. Kapan datang?"
“Baru saja. Makan di luar, yuk."
Lily menggeleng. "Aku nggak lapar."
Adam pura-pura mengangguk. "Oh, lumayan."
Lily mengernyit. "Lumayan apa?"
"Nanti Om makan dua porsi."
Lily hanya memutar bola mata. “Apa, sih Om.”
Adam kembali berkata, "sayang banget. Padahal restonya baru buka. Katanya pizzanya enak, yang bikin orang Italia langsung.”
Lily masih diam.
"Katanya lebih enak daripada pizza yang biasa kita beli.”
Kucing di pangkuan Lily mengeong pelan. Adam langsung menunjuknya. "Tuh, dia juga penasaran sama pizzanya."
Lily menahan senyum. "Apa, sih Om.”
Adam tertawa. “Yuk!”
Lily menghela napas panjang. “Aku siap-siap dulu.”