Kembali, Pulang

Regina Mega P
Chapter #34

Langkah Pertama

Bel sekolah berbunyi tepat pukul tujuh. Para siswa berlarian menuju kelas masing-masing. Suara tawa, teriakan, dan obrolan memenuhi koridor. Namun bagi Lily, semuanya terasa berbeda. Sejak percakapan dengan Ibunya dua malam lalu, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Ia melangkah pelan memasuki kelas. Pandangannya langsung tertuju pada bangku dekat jendela.

Kosong.

William belum datang.

Entah kenapa, ada rasa kecewa yang tiba-tiba menyelinap.

"Hi, Ly! Lagi nyari siapa?" Suara Bagas membuat Lily tersentak.

"Hah?"

"Daritadi ngelihatin bangku kosong."

Lily buru-buru menggeleng. "Nggak."

Bagas mengangguk pelan meski jelas tidak percaya. "Oke."

Sejak Layla berpindah tempat duduk, kursi Layla diisi oleh Bagas. Lily tidak keberatan. Malah lebih baik daripada harus satu tempat duduk dengan Layla yang masih emosi saat bersamanya.

Lily berusaha menatap buku dihadapannya. Namun tanpa sadar, beberapa kali matanya kembali melirik bangku itu.

Kosong.

*

Jam pelajaran pertama berlangsung seperti biasa. Guru menjelaskan materi matematika. Lily menulis. Tetapi pikirannya tidak ikut mencatat.

"Dia benar-benar kembali..."

Kalimat Ibunya terus terngiang.

"William kembali mencarimu."

Pensil di tangannya berhenti bergerak.

"Ly." Fanny menyenggol pelan lengannya.

"Hah?" Lily terkejut karena bukan Bagas yang ada disampingnya. 

"Bagas lagi ngisi jawaban di depan.”

Lily baru sadar Bagas sedang menulis jawaban dipapan tulis "Oh..."

Ia tersenyum malu.

“Jangan melamun nanti kesambet berabe kita.”

Lily tersenyum singkat lalu memfokuskan diri pada setiap angka yang ada di papan tulis.

Jam istirahat.

Fanny berdiri tepat di depan meja Lily sambil mengepalkan kedua tangannya. 

"Oke!"

Bagas yang sedang asyik menyantap siomay mendongak. "Apaan, sih? Kaget gue."

"Gue punya pengumuman penting."

Bagas langsung memasang wajah serius. "Waduh. Segenting apa?"

"Sangat genting." Fanny berdeham, lalu mengangkat dagunya bak seorang ketua rapat. "Mulai hari ini gue resmi membentuk satuan tugas khusus."

Bagas mengernyit. "Satgas apaan lagi?"

Fanny berpikir sejenak. “Misi Menyatukan Persahabatan."

Lily yang sedang minum hampir tersedak.

"Apaan, sih, Fan?"

"Lho, kemarin bukannya namanya beda?" sela Bagas sambil berusaha mengingat. "Misi... apa gitu?"

Fanny melambaikan tangan asal. "Ya pokoknya apa pun namanya, misinya tetap sama!"

Ia lalu menunjuk Lily, kemudian Bagas. "Kalian nggak boleh kayak gini terus."

“Kok gue? Gue sama Lily kan nggak kenapa-napa.”

Lily menghela napas. "Maksud lo... gue sama Layla?"

"Iya."

"Tapi gue nggak kenapa-kenapa."

Fanny langsung mendengus. "Bohong."

Lily mengangkat sebelah alis. 

Lihat selengkapnya