Pagi itu kelas kembali dipenuhi suara riuh para siswa. Sudah hampir seminggu sejak kejadian di laboratorium. William masih belum masuk sekolah. Meski suasana kelas tampak sama seperti biasanya, bagi kelompok mereka ada sesuatu yang terasa hilang. Bangku paling belakang masih kosong.
Layla datang lebih pagi dari biasanya. Ia duduk di bangkunya tanpa banyak bicara. Sesekali matanya melirik ke arah Lily yang sedang membuka buku di meja depan. Namun tak sekali pun keduanya saling menyapa. Jarak itu terasa begitu nyata.
Fanny mengembuskan napas panjang.
Ia menoleh ke Bagas yang sedang sibuk menghabiskan roti isi cokelat.
"Gas."
"Hm?"
"Gue udah nggak tahan."
Bagas mengangkat kepala. "Apa lagi?"
Fanny menepuk meja pelan. "Negara kita sedang krisis."
Bagas menatapnya datar "...Negara?"
"Iya. Negara Persahabatan."
Bagas menelan rotinya sambil menggeleng. "Lo pagi-pagi udah ngaco."
"Serius." Fanny berdiri. Ia meraih spidol yang tergeletak di meja guru lalu berjalan ke papan tulis. Dengan penuh semangat ia menulis huruf besar-besar. Satgas Perdamaian Nasional.
Bagas hampir menyemburkan air minumnya. "Fan! Apaan tuh?"
Fanny menunjuk tulisan itu dengan bangga. "Mulai hari ini kita resmi menjalankan misi penyelamatan hubungan diplomatik."
"Lo kira kita lagi sidang PBB?"
"Kurang lebih."
Beberapa teman sekelas mulai menoleh penasaran.
Lily yang sejak tadi mencoba mengerjakan soal latihan akhirnya mengangkat wajah.
"Fan..." Fanny pura-pura tidak mendengar. Ia kembali menulis.
TARGET
✔ Lily
✔ Layla
MISI
• Tidak saling jutek.
• Mau ngobrol minimal lima menit.
• Bisa makan ngemol berlima lagi.
Bagas langsung tertawa. "Kenapa harus ngemol?"
"Karena ada photobooth baru dan gue pengen banget kita kesana bareng!”
"Oke.”
“Astaga!” Lily memijat pelipisnya. "Lo malu-maluin."
Fanny menunjuk dirinya sendiri. "Gue? Gue justru sedang menyelamatkan bangsa."
"Bangsa apaan?"
"Bangsa kita berlima."
Bagas kembali tertawa. "Fan."
"Hm?"
"Kalau lo jadi ketua OSIS. Gue bakal bikin kementerian persahabatan."
"Kementerian?"
"Iya." Bagas menggeleng pelan. "Gue yakin sekolah ini bakal bangkrut."
Beberapa teman yang mendengar percakapan mereka ikut tertawa. Untuk sesaat suasana kelas terasa kembali seperti dulu. Namun tawa itu perlahan mereda ketika Layla masuk ke dalam kelas. Ia berhenti begitu melihat tulisan besar di papan. Kemudian menatap Fanny.
"Apa ini?"
Fanny tersenyum lebar.
"Program perdamaian."
Layla menghela napas. "Kamu serius?"
"Sangat."
Lily buru-buru berdiri. "Fan, hapus."
"Nggak."
"Fan."
"Nggak."
"Fanny!"