Suasana sekolah hari itu jauh berbeda dari biasanya. Setelah seluruh rangkaian ulangan umum berakhir, halaman sekolah yang biasanya dipenuhi siswa berseragam kini berubah menjadi panggung sederhana yang dihiasi kain-kain berwarna biru dan putih. Spanduk bertuliskan Gelar Karya dan Pentas Seni SMA Harapan Bangsa membentang di atas panggung, sementara suara musik terdengar memenuhi seluruh sudut sekolah. Hari itu bukan lagi tentang nilai. Melainkan tentang merayakan semua usaha yang telah mereka lakukan selama satu semester. Setiap ekstrakurikuler mendapat kesempatan menampilkan kemampuan terbaiknya.
Mulai dari tim PMR yang memperagakan simulasi pertolongan pertama, Paskibra dengan atraksi formasi baris-berbaris yang begitu rapi, Pramuka yang mempertontonkan keterampilan tali-temali, hingga penampilan tari tradisional, band sekolah, paduan suara, dan teater. Sorak-sorai para siswa memenuhi lapangan.
Lily, Layla, Fanny, Bagas, dan William duduk berdampingan di barisan tengah tribun. Sesekali mereka ikut bertepuk tangan saat teman-teman seangkatan tampil di atas panggung.
"Aku baru tahu anak basket bisa nari," gumam Fanny melihat salah satu senior tampil membawakan tari Saman.
Bagas terkekeh. "Itu bukan anak basket."
"Lho? Tapi dia tinggi diantara yang lain.”
"Yang tinggi banyak dan bukan berarti anak basket. Mereka anak tari."
"Oh, anak tari. Hafal banget ya lo.”
Bagas menggaruk lehernya yang tidak gatal. Dia jelas hafal anak perempuan yang tinggi itu karena dia pernah menyatakan cinta padanya. Namun cukup dia saja yang tau, kalau sampai mereka semua tau bisa-bisa jadi bahan guyonan.
William hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Lily yang duduk di sampingnya ikut tersenyum. Entah sejak kapan rasanya sudah lama sekali mereka tidak bisa tertawa bersama seperti ini. Rasanya rindu sekali.
Tak lama kemudian, pembawa acara kembali naik ke atas panggung.
"Baik, hadirin sekalian."
"Selanjutnya, sekolah akan memberikan penghargaan kepada siswa-siswi berprestasi yang telah mengharumkan nama sekolah di tingkat nasional."
Tepuk tangan kembali bergema.
Satu per satu nama dipanggil. Hingga akhirnya...
"Kami mengundang..."
"Bagaskara Mahenra dari XI IPS 1 silakang maju ke depan.”
Sorakan langsung terdengar dari berbagai penjuru lapangan. Bagas yang semula duduk santai sontak menghela napas. "Duh! Penghargaan lagi. Udah penuh banget lemari gue.”
Lily dan Layla hanya mentapnya geli. Bisa-bisanya sikap narsis itu datang disaat seperti ini.
Sementara Fanny langsung berdiri. "WOOO! BAGAS!"
"Fan, ih duduk!" bisik Lily malu.
"Bestie kita loh itu!” ujar Fanny bangga.
Bagas hanya tertawa kecil sebelum berjalan menuju panggung. Hari itu ia menerima penghargaan sebagai Juara Olimpiade Sains Nasional Bidang Ekonomi yang berhasil mengharumkan nama sekolah. Dengan langkah mantap ia menerima piagam dan piala dari kepala sekolah. Tatapan matanya penuh percaya diri. Tak sedikit siswa bertepuk tangan kagum.
"Wajar sih se-narsis itu. Dia memang jenius," gumam Layla.
William ikut tersenyum bangga. "Dia memang pantas."
Lily tanpa sadar mengangguk tanda setuju. Matanya masih fokus pada Bagas diatas panggung. Bagas memang selalu seperti itu. Santai, konyol namun ketika menyangkut prestasi, ia selalu berhasil membuat semua orang kagum. Saat kamera sekolah mengabadikan momen itu, empat sahabatnya menjadi orang pertama yang berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah.
Bagas menoleh ke arah tribun. Tatapan mereka bertemu. Ia tersenyum lebar sambil mengangkat pialanya tinggi-tinggi. Membuat Fanny kembali berteriak.
"Itu temen gueee!"
Bagas hanya menggeleng sambil tertawa lalu memberikan love sign dengan jemarinya pada para sahabatnya. Seolah muak dengan sikapnya, Lily hanya menghela napas.
Menjelang sore, seluruh rangkaian acara akhirnya selesai. Langit yang sejak siang dipenuhi awan mulai berubah semakin gelap. Para siswa satu per satu meninggalkan sekolah.
"Aduh!" Fanny memegangi perutnya.
"Kenapa?" Layla langsung menghampiri.