Hujan akhirnya mulai reda. Butiran air yang semula turun deras kini hanya menyisakan gerimis tipis. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang mulai menyala satu per satu.
William mengenakan kembali helmnya. "Ayo!"
Lily mengangguk pelan. Perjalanan kembali berlanjut. Kali ini suasananya terasa jauh lebih ringan. Meski keduanya masih lebih banyak diam, diam itu tidak lagi terasa canggung. Sesekali Lily memperhatikan punggung William yang kini tampak jauh lebih tegap dibanding anak laki-laki yang dulu selalu berlari sambil menyeret tangannya melewati hujan.
"Will."
"Hm?"
"Kamu nggak langsung pulang, kan?"
"Kenapa?"
"Aku... masih mau ngobrol."
William tersenyum tipis. "Aku juga."
Motor itu tidak berbelok ke arah rumah Lily, melainkan terus melaju hingga berhenti di depan sebuah rumah lama yang sedang direnovasi. Lily melepas helmnya perlahan. Dadanya langsung terasa sesak. Rumah itu, meski telah berubah, tetap dikenalnya. Rumah yang dulu menjadi tempat bermainnya bersama William sekaligus tempat yang mengubah hidup mereka tujuh tahun lalu.
William berkata pelan, "Aku rasa... kita harus ke sini." Will menatap rumah itu tanpa berkedip. Tangannya yang menggenggam tali helm perlahan mengencang. Seketika udara di sekitarnya terasa lebih berat. Suara palu para pekerja terdengar semakin jauh, berganti dengan gema yang hanya ada di dalam kepalanya.
Hujan.
Jeritan.
Tangisan.
Lalu bayangan seorang anak perempuan yang terbaring tak bergerak di tanah. Napas William mulai memendek. Jantungnya berdetak semakin cepat. Tanpa sadar jemarinya mulai bergetar.
"Tenang."
Suara psikiaternya tiba-tiba terlintas jelas di kepalanya.
"Traumanya mungkin tidak akan hilang begitu saja, William. Tapi kamu sudah belajar menghadapinya. Saat serangan itu datang, jangan melawan ingatannya. Sadari kalau itu hanya kenangan. Lihat sekelilingmu. Tarik napas. Kamu tidak sedang berada di hari itu lagi."
William memejamkan mata sejenak. Satu tarikan napas, lalu mengembuskannya perlahan.
Sekali lagi.
Sekali lagi.
Ia mulai mendengar suara lain. Bukan lagi jeritan dalam ingatannya. Melainkan suara angin yang menggoyangkan dedaunan. Suara kendaraan yang melintas di kejauhan. Suara para pekerja yang sedang bercanda sebelum pulang. William membuka matanya perlahan. Rumah itu masih berdiri di hadapannya. Namun tidak lagi dipenuhi bayangan darah seperti beberapa detik sebelumnya. Ia menunduk, memperhatikan kedua tangannya. Masih gemetar tetapi tidak sekuat dulu.
"Will?"
Suara Lily membuyarkan lamunannya.
William menoleh.
Lily sedang menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kamu nggak apa-apa?"
William terdiam beberapa detik berusaha menyadari bahwa semuanya baik-baik saja. Senyumnya memang belum kembali sepenuhnya. Namun kali ini ia tidak lari. Tidak menutup mata dan tidak pula tenggelam dalam masa lalu. Ia tetap berdiri di sana. Menghadapi tempat yang selama tujuh tahun selalu ia hindari. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya benar-benar sedang melangkah keluar dari luka itu.
“Kita bisa pulang kalau kamu mau.” Lily menggenggam tangan William yang perlahan mulai membaik.
William menggeleng. “Aku mau disini sebentar lagi, nggak apa-apa kan?”
“Aku nggak apa-apa. Kamu? Aku takut kamu...”