Suasana sekolah jauh lebih ramai dibanding biasanya. Para orang tua memenuhi koridor sejak pagi. Beberapa siswa sibuk mengantar ayah atau ibunya menuju ruang kelas masing-masing. Tawa, sapaan, dan suara anak-anak yang sudah membayangkan liburan memenuhi seluruh halaman sekolah.
Di kelas XI IPS, Lily duduk bersama Fanny, Bagas, dan Layla sambil menunggu pembagian rapor. Tak lama kemudian Adam datang bersama Wina. Mereka semua menyapa orang tua Lily, termasuk William.
“Apa kabar, Tante?”
Air mata langsung memenuhi kedua matanya. Wina lantas mendekat, merenggangkan kedua tangannya seraya memeluk William dan meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu.
“Maafkan Tante, ya Nak. Tante nggak seharusnya bersikap kasar sama kamu.”
William tersenyum, “aku juga minta maaf atas semua kesalahanku, Tante.”
Wina melepas pelukannya. Menatap wajah anak laki-laki itu yang sudah banyak berubah dari sebelumnya, namun dibayangannya Wina masih mengenal William sebagai bule nakal yang selalu menganggu anak-anak komplek. “Kamu nggak banyak berubah. Tapi sekarang sudah sangat dewasa.”
William hanya bisa tersenyum. “Tante mau ketemu sama Mami?”
Wina mengangguk. “Mana mami kamu, Will?”
“Disana, Tante.” William menunjuk kedua orang tuanya yang baru saja datang menghampirinya.
Mami William mendekati Wina. Air matanya langsung jatuh. Pada akhirnya keduanya saling menghampiri dan memeluk satu sama lain.
"Mami, saya minta maaf. Saya terlalu membenci waktu itu. Saya pikir, menjauhkan William adalah satu-satunya cara menyelamatkan anak saya. Ternyata itu hanya menambah luka baru untuk Lily."
Mami menggeleng. "Saya juga minta maaf atas segala kesalahan yang kami perbuat yang, Bu.”
Tangis keduanya pecah. Tak ada lagi amarah yang tersisa hanyalah dua orang ibu yang sama-sama pernah takut kehilangan anaknya.
Adam dan Ayah William saling berpandangan. Kemudian berjabat tangan.
"Semoga setelah ini anak-anak bisa menjalani hidup tanpa membawa luka lagi."
Ayah William mengangguk pelan. "Itu juga harapan saya."
Lily dan William saling memandang dari kejauhan. Tak ada yang perlu mereka katakan. Melihat kedua keluarga akhirnya berdamai. Sudah lebih dari cukup.
*
Sementara itu, saat pengambilan rapot diam-diam Bagas memperhatikan Adam yang sedang berdiri di depan kelas sambil menunggu Wina menyelesaikan administrasi pembagian rapor. Sesekali laki-laki itu tersenyum pada guru-guru yang menyapanya. Sesekali pula ia membantu orang tua murid lain mengangkat beberapa tumpukan map yang terjatuh tanpa diminta.
Sikapnya sederhana. Tidak berlebihan. Namun entah kenapa, membuat Bagas terus memperhatikannya.
"Lagi ngapain?" tanya Fanny yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Bagas sedikit terkejut. "Nggak ngapa-ngapain."
"Bohong." Fanny mengikuti arah pandangan Bagas. "Oh! Sekarang gue ngerti."
"Apanya?"
"Lo lagi ngelihatin calon bokapnya Lily."
Bagas langsung menyenggol bahu Fanny pelan. "Sembarangan."
Fanny terkekeh sebelum akhirnya pergi membantu Layla.
Bagas menghela napas pelan. Beberapa detik kemudian ia memberanikan diri menghampiri Adam.
"Om."
Adam yang sedang merapikan lengan kemejanya langsung menoleh. "Iya."
Bagas tersenyum canggung. "Saya Bagas, Om temannya Lily. Calon pacarnya, itupun kalau dia mau.”
Adam tertawa kecil. “Saya Adam calon papanya Lily.”
“Saya tau, Om. By the way, Makasih ya, Om."
Adam terlihat bingung. "Makasih untuk apa?"
Bagas menggaruk tengkuknya. "Udah baik sama Lily."
Adam tersenyum kecil. "Saya justru banyak dibantu Lily."
Bagas menggeleng. "Bukan itu." Ia menunduk sesaat, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. "Lily pernah cerita sedikit tentang Om ke saya. Awalnya dia agak khawatir. Tapi pada akhirnya dia mau mencoba membuka hatinya untuk orang baru.”
Adam mengangguk paham
"Dari ceritanya Lily, saya yakin Om orang yang baik. Makanya, saya berusaha meyakinkan dia.” Bagas tertawa kecil. “Lily juga sempat bandingkan Om dengan ayah tiri saya. Wah! Jauh banget.”
Adam tidak langsung menjawab. Sorot matanya berubah sedikit lebih lembut. "Lily cerita tentang saya ke kamu?" tanyanya hati-hati.
Bagas mengangguk. "Sedikit. Lily juga pernah cerita kalau Om selalu sabar sama dia."
Adam tersenyum tipis. "Sabar itu bukan karena saya hebat."
Bagas mengangkat kepalanya.
"Saya juga masih belajar."
Adam memandang ke arah halaman sekolah yang mulai lengang. "Jadi orang dewasa itu nggak ada sekolahnya, Gas."
Bagas terkekeh. "Serius, Om?"
"Iya. Kita sama-sama belajar. Belajar jadi pasangan. Belajar jadi orang tua. Belajar minta maaf. Belajar memperbaiki kesalahan." Adam menatap Bagas. "Bedanya, orang dewasa sering gengsi mengakuinya."