Sudah hampir satu minggu sejak liburan sekolah dimulai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, grup kecil yang berisi lima sahabat itu kembali ramai. Bukan karena masalah, melainkan karena Fanny yang mendadak mengumumkan bahwa 'Satgas Persahabatan' belum resmi dibubarkan. Menurutnya, misi baru telah dimulai: memastikan tidak ada satu pun anggota yang menghabiskan liburan dengan murung.
Bagas menjadi korban pertama. Fanny tanpa ampun menyeretnya ke taman kota bersama Lily, William, dan Layla. Di bawah rindang pepohonan mereka menggelar tikar sederhana, bermain kartu UNO, saling mengejek, dan membeli cilok dari pedagang keliling. Suara tawa yang sempat menghilang beberapa bulan terakhir perlahan kembali memenuhi sore itu.
"Gas curang!" seru Fanny ketika Bagas diam-diam menyelipkan kartu ke balik pahanya. Bagas tertawa tanpa dosa. "Namanya strategi." William sampai tertawa terbahak-bahak melihat Fanny mengejar Bagas mengelilingi taman, sementara Lily dan Layla hanya bisa menggeleng sambil menahan geli.
Lily menyadari bahwa untuk pertama kalinya ia bisa melihat William tersenyum lepas tanpa beban didadanya dan hal itu menjadi hal yang sangat dia syukuri saat ini. Persis seperti keinginannya dulu sebelum bertemu William. Dia ingin bermain sepuasnya bersama seperti dulu. Saat ini, mereka sedang melakukannya.
Menjelang sore kelimanya duduk berjajar menikmati langit yang mulai berubah jingga. Bagas memperhatikan tanpa sengaja bagaimana pandangan Lily selalu berhenti pada William setiap kali laki-laki itu berbicara. Sebaliknya, William selalu memastikan Lily baik-baik saja, menawarkan minuman, atau sekadar bertanya apakah ia lelah. Bagas hanya tersenyum kecil. Dalam hati ia mengakui bahwa perasaan Lily telah menemukan tempatnya. Untuk pertama kalinya ia benar-benar ikhlas.
Fanny yang peka segera menangkap senyum tipis Bagas. "Kenapa?" tanyanya pelan. Bagas menggeleng. "Nggak apa-apa. Cuma senang lihat semuanya balik lagi." Fanny mengangguk. Ia tahu ada banyak kalimat yang tidak perlu diucapkan agar bisa dimengerti oleh seorang sahabat. Lantas yang dilakukan hanya menepuk pelan bahunya. Berusaha menguatkan hatinya bahwa ini memang yang terbaik. Dan Bagas tersenyum pada Fanny seolah mengerti maksud dari tepukan dibahunya.
Sore mulai merambat pelan. Matahari yang sejak tadi menemani mereka perlahan turun di balik pepohonan taman, menyisakan langit berwarna jingga yang hangat. Angin bertiup pelan membawa aroma rumput yang baru dipangkas dan tanah yang masih lembap setelah hujan semalam. Tikar yang sejak siang dipenuhi tawa kini mulai dibereskan.
"Capek juga ternyata ketawa seharian," keluh Fanny sambil meregangkan badan.
"Ketawanya gara-gara lo sendiri," sahut Bagas.
"Kalau nggak curang main UNO, kita juga nggak bakal ngejar-ngejar lo."
"Itu namanya strategi."
"Itu namanya nggak tahu malu."
"Lah!"
Lily dan Layla hanya tertawa melihat mereka kembali berdebat.
"Udah, yuk pulang," ujar Lily sambil membantu melipat tikar.
Fanny mengusap pelipisnya pelan. Wajahnya sedikit meringis.
"Kenapa?" tanya Lily.
"Kepala gue agak pusing."
"Kecapean tadi ngejar si Bagas kayaknya.” Fanny meringis lemas.
Bagas langsung mengambil tas Fanny tanpa diminta. "Yaudah. Gue anterin pulang."
Fanny mengangkat sebelah alis. “Ciyus?”
“Mau nggak, nih? Kalau enggak gue tinggal.”
“Mulut lo emang nggak bisa manis dikit, ya? Terus Lily gimana?”
Lily mengayunkan tangannya, “halah! Tinggal jalan kaki doang. Udah sana kalian pulang!”
Fanny memeluk Lily dan Layla bergantian sementara pada William dia hanya tos! “Hati-hati, ya kalian! Jangan ngebut loh, Gas.”
"Siapa juga yang mau ngebut bawa orang cerewet."
"Heh!"
Ketiganya tertawa melihat perdebatan mereka. Selalu begitu. Tak ada yang mau mengalah. Tapi itu yang membuat persahabatan ini menjadi ramai. Entah apa jadinya persahabatan ini jika tidak ada mereka. Tak lama, Bagas dan Fanny lebih dulu meninggalkan taman. Kini tinggal Lily, Layla, dan William. Lily melihat langit yang mulai mendung.
“Gue duluan, ya!” Lily memeluk Layla sekilas, lalu melakukan tos! Pada William seperti yang Fanny lakukan sebelumnya.
William mengangguk. “Hati-hati.”
"Nanti kabarin kalau udah sampai," pesan Layla.
"Iya." Lily tersenyum kecil kepada keduanya. Rasanya masih sulit menerima keduanya bersama. Seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Tapi dia tidak ingin menghancurkan hubungan mereka. Jika lebih baik memendam semuanya, dia akan pendam sampai tak ada seorangpun yang mampu menggalinya.
Lily melambaikan tangan sebelum berjalan menyusuri trotoar yang mulai lengang. William memperhatikan punggung Lily beberapa detik. Lalu mengalihkan pandangannya kepada Layla. “Yuk!”