Malam itu Layla tidak langsung pulang dengan hati yang tenang. Sepanjang perjalanan, kata-kata William terus terngiang di kepalanya. Sesampainya di kamar, nama pertama yang ia hubungi bukan Lily, melainkan Fanny.
Tak lama panggilannya terhubung. Belum sempat Fanny menyapa, suara tangis Layla pecah. Awalnya Fanny terkejut. Ia berusaha bertanya, namun tak ada jawaban. Ketika dia menyebu nama William tangisnya semakin pecah. Sejak saat itu Fanny tak lagi bertanya. Ia membiarkan Layla menangis, mengulang cerita yang sama, menceritakan setiap detail pertemuannya dengan William di kafe es krim. Hampir dua jam mereka tersambung. Fanny hanya sesekali menjawab pendek agar Layla tahu ia masih mendengarkan. Baginya, orang yang sedang patah hati tidak selalu membutuhkan nasihat. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal.
Setelah tangis Layla mulai reda, Fanny mulai bercerita tentang dirinya sendiri. Ia mengingat hari dirinya dicampakkan lelaki di depan Lily. Saat itu ia merasa dirinya tidak cukup baik. Murahan. Sampah. Seperti yang laki-laki itu katakan. “Tapi lo tau nggak apa yang Lily bilang? Lo hanya butuh orang yang tepat, yang bisa membuatmu lebih bernilai. Dan sekarang kalimat itu gue pinjam buat lo,” ucap Fanny. Layla kembali menangis, tetapi kali ini tangisnya jauh lebih tenang.
“Emang sesakit ini, ya Fan?”
Helaan napas Fanny terdengar jelas di telepon, “ya begitulah! Tapi jangan kapok buat coba terus, ya Lay. Suatu hari orang yang tepat itu mungkin akan datang tanpa lo duga sebelumnya.”
Layla mulai tenang. Dalam hatinya dia meyakinkan diri, bahwa suatu hari seseorang yang tepat untuknya itu akan datang dan menyembuhkan patah hatinya. “Thanks, ya. Kamu emang terbaik, Fan.”
“Sama-sama, Layla sayang. Sekarang mending lo cuci muka, minum air putih terus tidur. Gue juga udah ngantuk, nih!”
“Iya. Bye!”
“Bye!”
Di sisi lain, Bagas duduk sendirian di balkon rumah. Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah yang masih basah sehabis hujan. Jemarinya menggulir galeri foto di ponselnya hingga berhenti pada satu foto yang diambil Fanny sore tadi. Lily sedang tertawa. Bukan ke arah kamera. Melainkan ke arah William. Tatapan itu begitu hangat. Begitu tulus. Tatapan yang selama ini diam-diam selalu ingin Bagas dapatkan. Namun malam itu, akhirnya ia mengerti. Tatapan seperti itu tidak pernah ditujukan untuknya.