Kembali, Pulang

Regina Mega P
Chapter #41

Mimpi Indah

Layla akhirnya bercerita kepada Lily tentang putusnya hubungannya dengan William. Lily memeluk sahabatnya dan membiarkannya menangis sampai tenang, tanpa menghakimi dan tanpa menyela. Ia hanya hadir, sebagaimana Fanny pernah hadir untuk Layla beberapa hari sebelumnya.

Liburan tinggal menghitung hari. Kelima sahabat itu kembali sering menghabiskan waktu bersama, seolah ingin menebus hari-hari yang sempat hilang karena kesalahpahaman dan luka masa lalu. Seperti biasa, Fanny menjadi orang yang paling bersemangat menyusun rencana. Hampir setiap beberapa hari sekali, ia mengirim pesan di grup dengan berbagai ide yang tak pernah habis. Mulai dari berburu jajanan, menonton film, hingga sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan.  

Sementara itu, Bagas tetap menjadi sumber kekacauan yang entah bagaimana selalu berhasil mengundang tawa. Candaan-candaan recehnya perlahan mengembalikan suasana yang sempat canggung, membuat Layla pun mulai bisa tertawa tanpa harus berpura-pura kuat. 

Bagas juga sudah mengetahui hubungan William dan Layla telah berakhir. William sendiri yang menceritakannya beberapa hari lalu. Sejak saat itu, Bagas semakin memahami satu hal. Bukan karena William lebih baik darinya. Melainkan karena sejak awal, hati Lily memang selalu menemukan jalan untuk kembali kepada William. Perasaan itu nulai terasa pahit, namun kali ini ia memilih menerimanya tanpa lagi melawan.

Sore itu mereka memutuskan pergi ke sebuah mal yang biasa mereka kunjungi sepulang sekolah.

"Nah, kan! Ayo foto!" seru Fanny sambil menunjuk photobooth yang berada di sudut lantai dua. 

Tanpa memberi kesempatan siapa pun menolak, ia langsung menarik mereka masuk.

"Ayo, ayo! Cepat sebelum antre!" Fanny berdiri paling tengah, kemudian dengan sengaja menggandeng lengan Layla. "Lo di sini."

Layla hanya terkekeh pasrah.

Di sisi kanan, Bagas berdiri di samping Lily. Sementara William mengambil posisi paling ujung, namun tetap berada disamping Lily. 

Lampu kamera berkedip beberapa kali. Bagas sempat melirik sekilas ke arah Lily yang sedang tersenyum ke arah kamera. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Perasaan itu ternyata belum benar-benar hilang. Namun kali ini ia tidak lagi berusaha mengejarnya. Ia menarik napas pelan, lalu ikut tersenyum ke arah kamera. Cukup seperti ini. Menjadi sahabatnya.

Di sisi lain, William beberapa kali menahan diri untuk tidak terlalu sering berbicara dengan Lily. Bukan karena ingin menjaga jarak darinya, melainkan karena ia masih menghormati perasaan Layla yang sedang belajar bangkit dari patah hati pertamanya. Untungnya, Layla menangkap sikap itu dengan kepala yang jauh lebih tenang. Ia tahu William tidak sedang menjauhi siapa pun. Mereka hanya sedang memberi waktu bagi semua luka untuk sembuh pada waktunya.

"Bagus?" tanya Fanny melihat hasil fotonya.

Bagas mengangguk. "Bagus."

Fanny menyeringai lebar. "Fix! Ini bakal jadi foto yang kita lihat lagi sepuluh tahun ke depan."

Tak ada satu pun dari mereka yang membantah karena diam-diam, kelimanya berharap persahabatan ini akan bertahan jauh lebih lama daripada masa-masa sekolah yang tinggal menghitung bulan.

Setelah puas berfoto, Fanny kembali mengambil alih komando. "Makan, yuk!"

Tak ada yang menolak. Mereka pun berjalan menuju food court yang mulai dipenuhi pengunjung. Lily, Layla, dan Fanny kompak memesan semangkuk ramen pedas lengkap dengan segelas ocha dingin. Sementara William dan Bagas lebih memilih donburi ayam yang menurut mereka jauh lebih aman daripada harus berhadapan dengan kuah ramen super pedas pilihan ketiga gadis itu.

"Dasar cupu," ledek Fanny sambil menyumpit mi.

"Kita kan orang Indonesia, nasi adalah makanan utama," balas Bagas santai.

William hanya terkekeh, sedangkan Lily dan Layla saling pandang lalu ikut tertawa. Suasana yang sempat canggung beberapa menit lalu perlahan benar-benar menghilang.

Di sela-sela makan siang, pandangan Fanny tertuju pada sekelompok mahasiswa yang sedang mengenakan jas almamater dari salah satu universitas ternama. Entah sedang mengerjakan tugas atau sekadar berkumpul, mereka terlihat begitu antusias berdiskusi.

Fanny menopang dagunya. "Nggak kerasa ya…"

"Apa?" tanya Bagas.

“Sebentar lagi kita kelas tiga. Terus lulus.”

Ucapan itu membuat meja mereka mendadak hening. Tanpa terasa, masa SMA yang selama ini mereka jalani bersama tinggal menyisakan satu tahun lagi. Bagas menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Abis lulus, pada mau kemana?”

Fanny yang menjawab lebih dulu. “Gue mau sekolah design, abis itu bikin rumah mode dengan brand sendiri yang bisa dikenal sampai luar negeri.”

“Asyik! Dapet baju gratis,” celetuk Bagas.

“Gratis lihat katalognya. Kalau bajunya tetap bayar.”

“Hih! Dasar kikir.”

“Gue kasih, deh diskon lima persen buat kalian, tapi masing-masing bawa 20 pelanggan dulu.”

“Lima persen doang? Mana disuruh bawa pelanggan. Dasar kikir!”

Lihat selengkapnya