Liburan terakhir sebelum kelas tiga ditutup dengan satu malam yang tak pernah Lily duga akan begitu berkesan. Sejak sore, ia sudah merasa ada yang berbeda. Adam datang menjemput mereka tepat waktu seperti biasanya. Namun kali ini penampilannya jauh lebih rapi. Kemeja berwarna navy yang disetrika sempurna dipadukan dengan jas berpotongan sederhana dan sepatu pantofel hitam mengilap. Tak ada sneaker atau loafers yang biasa ia kenakan saat berkunjung ke rumah. Begitu pula ibunya.
Sejak siang, Wina sibuk memilih gaun dan beberapa kali meminta pendapat Lily. Bahkan sebelum berangkat, ibunya sempat memaksa Lily mengenakan gaun berwarna biru muda yang senada dengan gaun miliknya.
"Aku pakai kaus sama jeans aja, boleh kan, Bu?" gerutu Lily sambil berkaca.
"Nggak."
"Bu..."
"Nggak."
Lily mendesah panjang.
“Lagian cuma makan doang, kan? Paling di resto yang ada pizzanya kayak kemarin.”
Ibunya hanya tersenyum misterius. "Nanti juga tahu."
Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Lily semakin menjadi.
Selama diperjalanan, Lily hanya mendengarkan Adam berbicara tentang investasi dan pekerjaan di kantornya. Bagi Lily cerita Adam sangat menarik. Banyak pelajaran yang bisa dia ambil disana. Seperti tentang investasi, saham dan lainnya. Hingga akhirnya, mobil Adam berhenti di pelataran sebuah hotel berbintang lima yang menjulang tinggi di tengah kota.
Lily menoleh ke kanan dan kiri. "Om..."
"Iya?"
“Bukan restoran yang ada pizzanya itu?”
Adam terkekeh kecil. “Bukan, Ly.”
"Tapi ini hotel."
"Ya, memang hotel.”
"Terus kita ngapain?"
"Makan malam."
Lily memandang ibunya yang hanya tersenyum tanpa menjelaskan apa pun.
Mereka naik menggunakan lift hingga ke rooftop. Membuat Lily semakin curiga dan penasaran. Begitu pintu lift terbuka, angin malam langsung menyambut mereka. Lampu-lampu kota membentang sejauh mata memandang. Musik instrumental mengalun pelan, berpadu dengan cahaya lampu gantung yang membuat suasana terasa hangat meski udara malam cukup dingin. Dan ini adalah pertama kalinya Lily menikmati makan malam di tempat semewah itu.
"Pantes aja Ibu maksa aku pakai gaun." Ia memandang sekeliling. "Ternyata ke sini."
Adam hanya tersenyum sambil menarik kursi untuk Wina. "Kamu cantik malam ini."
Wina tersipu.
"Lily juga."
Lily spontan meringis.
"Om, jangan mulai."
Adam tertawa kecil.
"Om, serius, Ly.”
Mereka pun mulai memesan makanan. Lily memilih steak dengan saus mushroom, mashed potato, dan segelas teh hangat untuk mengusir dingin. Wina memesan chicken salad serta lemon tea. Sementara Adam tetap setia dengan steak tanpa nasi ataupun kentang.
"Om lagi diet?" tanya Lily sambil menutup buku menu.
Adam mengangguk. “Umur segini kalau mau makan harus pikir-pikir dulu, Ly.”
“Emang harus segitunya, ya?”
“Dokter yang nyuruh.”
"Nah, itu baru masuk akal."
Adam dan Wina saling pandang lalu tertawa kecil.
Lily memperhatikan dua orang di hadapannya secara bergantian. Adam tetap menjadi Adam yang santai dan selalu tersenyum sejak saat pertama kali mereka bertemu. Sementara ibunya, entah sejak kapan wajah itu kembali memancarkan kebahagiaan yang sudah lama hilang. Garis-garis lelah yang dulu selalu menghiasi sorot matanya kini perlahan tergantikan oleh senyum yang tulus. Mungkin benar. Bahagia memang tidak bisa menyembuhkan semua luka namun, ia mampu membuat seseorang kembali terlihat hidup.
Melihat ibunya tertawa seperti itu, Lily ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tak lagi harus khawatir membayangkan masa tua ibunya. Ada seseorang yang kini berdiri di sisinya, bukan untuk menggantikan masa lalu, melainkan menemani langkah-langkah yang masih akan mereka tempuh bersama.
Setelah makanan datang, percakapan mereka mengalir ringan.
Adam beberapa kali bertanya tentang rencana kelas tiga, sementara Lily lebih banyak bercerita tentang Fanny, Bagas, Layla, dan William yang kini berbeda kelas dengannya. Sementara Wina hanya menjadi pendengar sambil sesekali menimpali. Malam itu terasa begitu tenang dan hangat. Sampai akhirnya, ketika piring-piring mulai kosong dan pelayan datang membawakan hidangan penutup, Adam mendadak terdiam. Ia menarik napas panjang. Lalu meletakkan garpu dan pisau di atas piringnya.
"Sebentar..." Suara Adam terdengar sedikit bergetar.
Lily langsung mengangkat kepala. "Om, jangan bikin malu." Dia sudah menduga hal ini akan terjadi hari ini.
Adam tersenyum kikuk saat Lily mengatakan hal itu. Sementara Ibunya menepuk paha Lily, menyuruhnya diam.
Adam lantas memandang Wina, lalu bergantian menatap Lily. "Ada satu hal yang sebenarnya sudah lama ingin aku sampaikan."
Lily bergumam, “aduh merinding!”
Adam tersenyum gugup, ia merogoh saku jasnya perlahan. Sebuah kotak beludru berwarna hitam kecil kini berada di atas telapak tangannya.
Lily membeku. “Sudah kuduga.” Seketika ia menoleh ke arah ibunya yang sama terkejutnya.
Adam tidak langsung membuka kotak itu. Sebaliknya, ia lebih dulu memandang Lily. "Lily."
“Aku? Kok... aku?”
"Om memang ingin meminta Ibu kamu menjadi pendamping hidupku." Adam berhenti sejenak. "Tapi sebelum itu, Om ingin meminta izin kepada orang yang paling berharga dalam hidupnya."