Sayup-sayup, Keenan mendengar suara riang sepasang anak laki-laki dan perempuan. Suara anak-anak itu terdengar indah dan merdu di telinganya.
Apa aku sudah mati?
Keenan membuka matanya. Silaunya cahaya membuat matanya menyipit, lalu membukanya perlahan sambil beradaptasi dengan cahaya yang ia terima.
Di mana ini? Siapa kedua anak ini?
Anak laki-laki itu tidak sengaja melihat ke arah Keenan. Sontak, ia berlari ke arah Keenan yang diikuti oleh saudari perempuannya.
"Om sudah bangun?"
Suara lucu khas anak-anak membuat hati Keenan merasa hangat. Ia pun menjawab lewat tatapan matanya. Dan anak laki-laki itu langsung bersorak dan keluar dari ruangan sambil memanggil 'papa'.
"Akhirnya, Om bangun juga," ucap Alana tersenyum lebar. "Om tahu nggak sudah berapa lama Om nggak bangun?"
Keenan menggeleng kecil.
"Satu tahun, Om," seru Alana sambil mengangkat jari telunjuknya di hadapan Keenan.
Kening Keenan berkerut. Ia merasa ada yang aneh. "Aku belum mati?"
Alana menggeleng, wajah polosnya membuat Keenan tersenyum tanpa ia sadari.
"Om masih hidup kok. Siapa yang bilang kalau Om sudah mati? Kata papa, Om harus hidup. Kalau Om mati, papa pasti sedih."
Dengan terbata-bata, Keenan berucap. "Nama kamu siapa? Dan kenapa papa kamu sedih kalau Om mati?"
"Nama aku Alana Arsalan Hafie. Papa bilang, Om adalah saudaranya yang hilang saat gempa bumi dulu."
Jantung Keenan berdetak kencang. Arsalan Hafie. Ia mulai menebak siapa nama laki-laki yang di panggil 'papa' oleh gadis kecil di depannya ini.
"Kevin Arsalan Hafie, dia papa kamu?"
Alana mengangguk kencang. "Benar, Om."
Senyum tipis menghiasi wajah Keenan. Hatinya yang dingin, kembali hangat saat ia mengingat bahwa ia masih memiliki keluarga. Namun, senyumnya luntur saat teringat wajah istrinya.
"Om Keenan kok sedih? Nggak suka ya sama papanya Lana?"
Lamunan Keenan buyar saat mendengar suara sedih Alana.
"Om senang kok," jawab Keenan cepat. "Oh ya, tadi kamu bilang Om nggak sadar selama satu tahun ya?"