Keenan merasa tubuhnya sudah tidak terlalu kaku. Dia sudah mulai bisa berjalan beberapa langkah tanpa terjatuh.
Dokter pun selalu datang memantau keadaanya. Jadwal terapi pun Keenan rutin jalankan.
Kini, ia sudah bisa bermain dengan dua keponakannya.
"Sini, Om. Bang Varo sembunyi di sini," seru Alana, dia menunjuk ke arah belakang sofa.
Keenan langsung berjalan ke arah yang ditunjuk Alana, mengendap-ngendap berniat mengagetkan keponakannya.
Alvaro mengintip, melihat di mana keberadaan om nya.
"Awas aja kamu, Lana," gumam Alvaro menahan kesal.
Dari belakang, Keenan sudah berdiri, bersiap mengagetkan keponakannya yang masih memantau dari balik sofa.
Alana sendiri memilih duduk sambil memakan buah apel yang sudah dikupas. Ia tidak sabar melihat abangnya yang pasti sangat kesal dengannya.
Dalam gerakan cepat, Keenan menyentuh punggung Alvaro. Anak laki-laki itu langsung berteriak kencang.
"Hantu!"
Alvaro langsung berlari dan tidak sengaja menabrak meja. Alana langsung tertawa puas.
"Dasar penakut," ejek Alana puas.
Alana tahu, abangnya itu penakut kalau soal hantu. Ia sudah lama menunggu waktu pembalasan.
Biasanya, Alvaro akan mengusuli adiknya dengan membawa kucing kesayangannya ke tempat tidur Alana.
Setiap kali ingin membalas, selalu saja gagal.
Akhirnya, kini melalui Keenan, dendam Alana terbalaskan.
"Bagus, Om," puji Alana, senyumnya begitu manis.
Alvaro merengut. Tatapan kesalnya semakin membuat Alana tertawa.
Keenan pun ikut tertawa. Ia meraih tubuh Alvaro dan mengangkatnya. Wajahnya begitu masal.
"Om nggak asik," ketus Alvaro.
Keenan menurunkan tubuh Alvaro, ia mengecup pipi Alvaro yang sedang cemberut.
"Anak laki-laki nggak boleh penakut," ucap Keenan lembut. "Lagian, mana ada hantu, Varo. Kalau sudah tahu penakut, jangan nonton film hantu lagi. Jadi parno kan?"
Alvaro memalingkan wajahnya. Ia memang kesal, namun di sisi lain, dia sangat bahagia.
Papanya tidak lagi sedih. Kehadiran Keenan mampu membuat suasana rumah semakin ramai.
Keenan mulai melupakan kesedihannya. Ia tidak lagi larut dalam kekecewaan terhadap pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan istrinya.
Iya. Keenan menganggap bahwa istri telah mati.
Saat baru sadar, Keenan sering melamun. Ia sering menangis diam-diam saat semua orang tidak ada.