Kembali Tuk Balas Dendam

Sequoia Tom
Chapter #4

Rasa Sakit Pemicu Balas Dendam

Satu detik, satu menit, hingga sepuluh menit berlalu dalam keheningan.

Tidak ada lagi yang berbicara setelahnya.

Kevin melihat punggung Keenan yang mulai bergetar. Pasti dia sedang menangis.

"Apa salahku? Kenapa dia bisa setega itu?"

Pemandangan dari balik jendela mulai kabur. Air matanya menghalangi penglihatannya.

"Aku mengenalnya bukan hitungan hari, bukan hitungan bulan. Tapi, sepuluh tahun aku mengejarnya. Tiga tahun aku hidup bersamanya."

Matanya memerah, tangisnya semakin pecah.

"Aku pikir, waktu selama itu aku sudah mengenalnya. Sudah memahaminya."

Keenan menggeleng lemah. "Lamanya mengenal seseorang ternyata bukan jaminan untuk tahu semua tentangnya."

"Dia ... sampai sekarang aku masih tidak bisa percaya ... dia ... membunuhku. Bahkan, anak yang belum lahir pun, dia begitu tega."

Kevin membiarkan Keenan meluapkan kesedihan dan kekecewaannya.

Melihat betapa sayangnya Keenan terhadap kedua anaknya, ia sangat yakin kalau Keenan pasti sangat terpukul mengetahui kebenaran yang menyesakkan ini.

Saat melihat punggung Keenan tidak lagi bergetar, suara tangisnya perlahan hilang, tersapu oleh hujan yang turun deras di luar, Kevin ikut berdiri di sebelah Keenan.

"Menangislah," ucap Kevin, tangannya menepuk pelan pundak Keenan sebagai bentuk dukungan darinya.

"Nanti kita bicara lagi setelah kamu siap."

Kevin langsung keluar kamar tanpa menunggu respon Keenan. Ia menutup pintu perlahan.

"Abangmu sudah cerita?"

Kevin mengelus dadanya saat melihat sosok istrinya yang muncul tiba-tiba.

"Bikin orang kaget aja."

"Gimana? Abang kamu udah mulai cerita belum? Aku penasaran," desak Maisha tidak sabar.

"Sstt, pelankan suara kamu," tegur Kevin.

Maisha mengangguk patuh. "Jadi gimana?"

Memang dasar perempuan. Kalau sudah penasaran, pasti dia tidak akan diam sebelum dijawab, pikir Kevin.

"Sudah," jawab Kevin, tangannya menarik sang istri menjauh dari kamar Keenan, takut suara cempreng istrinya mengganggu Keenan.

"Sayang, tangan aku sakit kamu tarik-tarik gini," kesal Maisha setelah mereka tiba di kamar mereka.

"Habisnya, suara kamu besar, nggak bisa ngomong pelan-pelan."

"Tapi jangan ditarik juga dong," ketus Maisha, "minimal digendong."

Lihat selengkapnya