Keenan menyusun daftar rencana dengan matang. Ia tidak ingin gegabah.
Sembari menunggu kondisinya pulih, ia memilih memantau Amanda, mantan istrinya dari jauh.
Setiap gerak-gerik Amanda, tidak lepas dari pengawasannya. Tidak ada celah bagi Amanda untuk bersembunyi darinya.
"Total ada tiga belas tahun, Manda," ucap Keenan pelan. "Aku sangat tahu tentangmu. Kelemahanmu, ketakutanmu. Bagaimana kalau aku kasih kamu kejutan kecil? Kamu sangat suka hadiah kan?"
Sorotnya menajam, terkunci pada sosok Amanda yang tersenyum manis di album pernikahan mereka.
Wajahnya seketika berubah saat pintu kamarnya dibuka.
"Om Keenan! Om sedang apa? Janjinya mau ngajak Lana keluar? Kok masih di kamar? Bang Varo hampir ketiduran di sofa."
Keenan menyimpan album pernikahannya. Ia berbalik dan langsung menggendong Alana.
"Kita pergi sekarang!"
"Yeaayy, akhirnya Om Keenan beliin Lana hadiah," teriak Alana semangat.
Kehadiran dua keponakannya berhasil meredam kemarahan dihatinya.
Hari itu, saat ia tahu semua kebenaran dan kebusukan yang telah dilakukan Amanda, ia sangat marah.
Ia hampir tidak bisa mengendalikan emosinya saat tahu bagaimana nasib jasad anaknya.
Saat itu juga, ia ingin melabrak perempuan itu. Sesuai ucapannya, ia ingin mengulitinya.
"Kamu mau ke mana?"
Kevin berusaha menahannya. Keenan sampai mendorong Kevin hingga membentur dinding cukup keras.
Saat membuka pintu, tatapan polos Alana dan sikap cuek Alvaro membuat amarahnya menguap.
"Om Keenan kenapa? Kakinya masih sakit ya? Sini, Lana pijat biar kakinya nggak sakit lagi."
Suara polos Alana berhasil membuat Keenan terenyuh.
"Kalau sangat sakit, kita ke rumah sakit. Om nggak perlu marah sama papa."
Ucapan Alvaro membuat Keenan sadar. Keponakannya itu sepertinya salah paham.
"Jadi, Papa sama Om Keenan berantem karena papa nggak mau bawa om ke rumah sakit? Begitu ya?"
Alana maju, menggenggam tangan Keenan yang dingin.
"Pasti sakit banget ya, Om. Tangan Om sampai dingin gini."
Alana meletakkan tangan Keenan di pipinya. Ia tersenyum manis.