Kembali Tuk Balas Dendam

Sequoia Tom
Chapter #9

Jangan Gila Dulu

Kecaman, makian, dan sumpah serapah tidak berhentinya dilontarkan oleh banyak orang.

Tidak hanya di dunia nyata, mereka berbondong-bondong menyerang di media sosial.

Rendi membaca satu per satu komentar para netizen. Setiap membacanya, amarahnya semakin mendidih.

Ia letakkan ponselnya, berusaha tenang. Seolah, ia tidak terganggu dengan semua itu.

"Rendi," panggil Amanda, suaranya parau, matanya cekung, ada lingkaran hitam yang menghiasi wajahnya.

"Tidak perlu kamu pikirkan," ucap Rendi. "Aku akan selesaikan secepatnya. Kamu istirahat saja."

Amanda tampak keberatan. Ia berusaha turun dari ranjangnya. Rendi langsung menghampirinya.

"Aku sudah bilang, kamu istirahat saja. Ini cuma masalah kecil."

Amanda menggeleng pelan. "Apa kamu bisa nggak usah pergi mengurusnya? Suruh saja bawahan kamu yang mengurusnya."

"Sayang, aku tahu akhir-akhir ini kamu sering mimpi buruk, nggak bisa tidur nyenyak, sering gelisah nggak jelas. Kalau aku nggak pergi, takutnya masalahnya semakin melebar. Aku jadi nggak bisa jagain kamu."

"Kalau sudah beres, langsung ke sini. Aku bosan di sini."

Rendi membantu Amanda kembali tidur di ranjang. Ia mencium kening wanitanya dengan mesra.

"Aku pergi dulu," pamit Rendi.

Ruangan seketika hening. Tidak ada suara apapun yang terdengar. Matanya tidak mengantuk, jadi ia memutuskan untuk menonton drama kesukaannya.

Sejak teror malam itu, teror berikutnya mulai berdatangan. Tepat saat ia kembali ke rumah, ia sering mendengar suara tangis anak kecil.

Rendi sampai memanggil dukun untuk mengusir hantu anak kecil yang sering Amanda dengar menangis.

Nihil.

Tidak ada apapun. Semua tampak normal. Tidak ada yang mencurigakan.

Amanda kembali dilarikan ke rumah sakit saat ia kembali melihat siluet anak kecil yang ia lihat malam itu.

Bedanya, ia melihatnya di kamar mandi, tepat pada kaca transparan yang memantulkan bayangan di dalamnya.

Sejak itu, Rendi terus menemaninya. Jarang meninggalkannya. Anehnya, gangguan itu tidak pernah lagi ia rasakan, meskipun Rendi meninggalkannya sendirian di rumah sakit saat kekasihnya itu bekerja.

Mungkin, karena di rumah sakit, pikir Amanda saat menyadari gangguan mulai hilang.

Lihat selengkapnya